ASAL MULA SENI PERTUNJUKAN TEMBANG CIANJURAN

Di tempat kelahirannya, Cianjuran, sebenarnya asal mulanya nama kesenian ini adalah mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Seni mamos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kecapi indung, kecapi ricik, suling, dan atau rebab.

Mamos terbentuk pada masa pemerintahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat sekitar tahun 1834-1864. Bupati kusuma ningrat dalam membuat lagu sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karena itu dia terkenal dengan nama Kanjeng Pancaniti. Pada mulanya mamamos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal ini terbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Omong, Ibu O'oa, Ibu Resna, Dan Nyi Mas Saodah.

Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suada Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca),dengung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun tau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Keduanya menunjukan pada peraturan rumpaka (teks). Sedangkan teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda. Namun demikian pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada yang digabungkan. Lagu-lagu papantunan pun banyak yang dibuat dengan aturan pupuh.

Pada masa awal penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kecapi dan teknik memainkannya masih jelas dan seni Pantun. Begitu pula lagu-lagunya hampir semuanya dari sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil dari cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah.
 
Pada masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradirejdja II kesenian mamaos mulai menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja adalah diantara tokoj mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh bupati Bandung RAA. Martanagara (1893-1918) dan RAA. Wiranatakoesoemah. Ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu-lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa perkumpulan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula ketiak radio NIROM Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutkan dengan tembang Cianjuran.
 
Sebenarnya istilah mamaos hanya menunjukan pada lagu-lagu yang berpolakan pupuh (tembang), karena istilah mamaos merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan cara dinyanyikan. Buku wawacan yang menggunakan aturan pupuh ini ada yang dilagukan dengan teknik nyanyian rancag dan teknik beluk. Lagu-lagu mamaos berlasar pelog (dengung), sorog (nyorog; madenda), salero, serta mandalungan. Berdasarkan bahan asal dan sifat lagunya mamaos dikelompokan dalam beberapa wanda yaitu: papantunan, jejemplangan, dedengungan, dan raracagan. Sekarang ditambah pula jenis kakawen dan panambih sebagai wanda tersendiri. Lagu-lagu mamaos dari jenis tembang banyak menggunakan pola pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada diantaranya lagu dari pupuh lainnya.
 
Lagu-lagu dalam wanda papantunan diantaranya Papatat, Rajamantri, mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup, Balagenyat, Putri Layar, Pengapungan, Rajah, Gelang Gading, Candrawulan, dsb. Sementara dalam wanda jejemplangan diantaranya terdiri dari Jemplang Panganten, Jemplang Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamiring. dsb. Wanda dedengungan di antaranya Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung dan sebagainya. Wanda raracangan di antaranya; Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Barat, Udan Mas, Udan Iris, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong dan sebagainya. Wanda Kakawen diantaranya: Sebrakan Sapuratina, Sebrakan Pelog, Toya Mijil, Kayu Agung, dan sebagainya. Wanda panambih di antaranya: Budak Ceurik, Toropongan, Kulu-kulu Gandung Gunung, Renggong Gede, Penyileukan, Selabintana, Soropongan, dsb.

Pada mulanya mamaos berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, disamping masih seperti fungsi semula, juga telah menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya seperti kesenian. Mamaos sekarang dipakai dalam hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan berbagai keperluan hiburan atau acara adat.

Demikian tentang Seni pertunjukan tembang Cianjuran alias Mamaos ini, semoga bermanfaat untuk menambang ilmu pengetahuan kita tentang kesenian nusantara pada umumnya, terimakasih.

MENGENAL KOTA DODOL KANDANGAN KALIMANTAN SELATAN

Tugu Dodol, dodol kandangan, kota kandangan, kota dodol kalsel
Indoborneonatural--Jika berbicara tentang dodol di Kalimantan Selatan, maka orang-orang pasti menghubungkannya dengan Kota Kandangan. Kandangan adalah sebuah kecamatan sekaligus ibukota kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Kandangan terletak di tepi sungai Amandit dan berjarak 135 km disebelah utara Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Menuju kota kandangan dapat ditempuh dengan jalan darat kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil.

Kandangan terkenal dengan makanan-makanan antara lain dodol, lemang, dan ketupat khas Kandangan.Dodol ini dikenal sebagai dodol terenak di kota seribu sungai ini.  Makanan khas Banjarmasin ini sangat cocok untuk dijadikan teman santai di sore hari sembari menikmati secangkir the hangat bersama keluarga.  Sesuai dengan namanya, Dodol Kandangan berasal dari Daerah Kandangan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sekilas dodol yang satu ini terlihat sama dengan dodol-dodol pada umumnya. Namun sebenarnya dodol ini sangat berbeda dilihat dari tekstur dan rasanya. Dodol Kandangan terasa lebih manis dan memiliki tekstur yang sangat lembut.

Tentu saja makanan khas daerah Kandangan ini sangat nikmat untuk disantap. Apalagi untuk anda para pecinta makanan manis. Ada salah satu pengusaha Dodol Kandangan yang sangat terkenal di Daerah Kandangan. Beliau bernama Ibu Noor Jannah.

Beliau merupakan generasi pertama dari pengusaha dodol Kandangan terkenal yang ada di Daerah Kandangan. Anda dapat menemukan pusat penjualan Dodol Kandangan di Daerah Kandangan ini. nah, bagi anda yang kebetulan sedang berkunjung ke Banjarmasin tepatnya di Daerah Kandangan, jangan lupa beli Dodol Kandangan untuk anda jadikan camilan selama di perjalanan liburan anda.

Jangan lupa beli lebih banyak lagi sebagai oleh-oleh khas Banjarmasin untuk keluarga, kerabat, dan para sahabat tercinta. Pastinya mereka akan menyukai warisan kuliner asli Kalimantan Selatan ini.
Dodol Kandangan juga banyak dijual di pusat-pusat oleh-oleh di Kota Banjarmsin. Jadi anda tidak akan menemui kesulitan untuk menemukanya. Ada banyak kios pusat oleh-oleh tersebar di berbagai penjuru Kota Banjarmasin. Apalagi di sekitar jalan-jalan protokol Kota Banjarmasin.

Anda hanya tinggal pilih kios  atau toko  oleh-oleh mana yang akan anda kunjungi. Harga per kemasannya juga cukup terjangkau. pokoknya anda tidak akan rugi membeli Dodol Kandangan ini untuk anda bawa pulang ke kota asal anda.

Anda juga tak perlu khawatir dodol ini akan basi sesampainya di rumah karena dodol ini awet hingga beberapa hari. Dodol Kandangan awet bukan karena mengandung bahan pengawet, melainkan kandungan gula arennya yang membuat dodol ini bisa bertahan hingga beberapa hari lamanya.

Demikian tentang Kota Dodol Kandangan ini, silakan berkunjung ke kota kandangan dan ikut menikmati lezatnya dodol dan ketupat kandangan yang terkenal di kota ini. Terimakasih.

INILAH BEBERAPA ILMU TAGUH (KEBAL) URANG BANJAR KALSEL

Indoborneonatural---Di Nusantara ini yang dipenuhi dengan berbagai jenis Ilmu kanuragan, ada banyak sekali terdapat berbagai jenis ilmu kebal, baik kebal sejatan tajam, kebal api, kebal pukul sampai kebal terhadap senjata api. Metode dan bentuk amalannyapun ada berbagai macam, mulai dari jenis jimat, amalan, untalan, minyak dan lain sebagainya yang secara garis besar terbagi menjadi dua aliran, aliran hitam dan aliran putih. Nah berikut ini ada beberapa ajian atau ilmu kebal (Taguh) yang ada di masyarakat banjar Kalimantan Selatan menurut urang bahari antara lain :

1.
Buntat kalimbuai
2.untalan minyak bintang
3.untalan minyak gilingan gangsa
4.untalan rangka hirang
5.untalan minyak gajah
6.untalan minyak sulingan mayat
7.untalan bulu barabiaban
8.sumping takau
9.buntut anoman
10.taring pelanduk(jimat)
11.wasi kuning(jimat)
12.picis mimang(jimat)
13.tanduk kucing(jimat)
14.andung laki sampuk buku(jimat)
15.haur sampuk buku(jimat)
16.kulit kijang putih(jimat)
17.daun taguh sahari(jimat)
18.kakamban hantu beranak(jimat)
19.sulang kambing
20.
Untalan minyak sambung nyawa 
21.kalang sawa
22.batu patir
23.buntat ulin
24.ulin manang
25.sampuk sisik(lampahan)
26.pekat sambung buku
27.taguh kurung-kurung(bawaan dr lahir)
28.tapa banyu(jenis mandi)
29.Mandi dlm tapih kuitan(mandi dlm tapih wasi)
30.Hayam ualangan


Demikian daftar atau jenis-jenis ilmu ajian taguh atau kebal masyarakat banjar di daerah Kalimantan Selatan yang penulis ketahui, semoga tulisan ini bermanfaat, jika ada agan atau saudara-saudaraku mengetahui ajian taguh lainnya, mohon dishare disini ya..terimakasih.

PANTANGAN DAN TATA CARA MENDULANG BATU PERMATA INTAN DI BANJAR MARTAPURA

Indoborneonatural---Intan, kata untuk melambangkan gengsi tertinggi bagi para pencinta perhiasan. Bermilyar-milyar rupiah tiap tahunnya uang dibelanjakan orang seluruh dunia untuk memiliki benda satu ini. Di daerah Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, disinilah intan berada tapi tidak semua orang memiliki kemampuan mendapatkannya. Intan di tanah Banjar khususnya di Martapura adalah hal yang dianggap gaib penuh mistis dan berbagai tata aturan dan yang ketat untuk bisa mendapatkannya.

Entah kenapa intan mungkin merupakan satu-satunya hasil bumi tanah Banjar yang tidak bisa dijamah oleh orang asing. Minyak bumi, batu bara, batu besi, emas, dan lainnya bisa saja dengan mudah ditambang, asal dengan alat modern maka hasilnya akan banyak. Tetapi intan tidak semudah itu bisa ‘dijemput’ dari singgasananya di dalam perut bumi lambung mangkurat ini.

Hal aneh pernah terjadi. Pada tahun 1960 – 1970, di Kabupaten Banjar pernah dibuka usaha pertambangan modern dengan pelaksana PT. Aneka Tambang. Lahan garapannya mencapai wilayah 2 kecamatan, sebagaimana pertambangan modern alat yang dipakai adalah alat berat dan mesin-mesin bertenaga raksasa sampai keterlibatan tenaga ahli pertambangan dari luar negeri serta karyawan yang banyak. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan modal yang dikucurkan padahal cukup dapat beberapa butir intan saja maka modal pasti balik. Nyatanya selama sepuluh tahun kegiatan pertambangan itu tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan akhirnya usaha negara ini ditutup dengan kesimpulan wilayahnya tidak layak tambang. Sementara kegiatan penambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat terus berjalan dan banyak yang mendapatkan hasil yang memuaskan, salah satunya yang terkenal adalah ditemukannya intan cempaka yang besarnya sangat mencengangkan semua orang.

Mendulang Intan Martapura

Penambangan moderen yang berbeda dengan masyarakat Banjar yang mendulang di sana, dari dulu sampai sekarang mereka masih bisa menemukan beberapa intan dalam setahun cukup untuk membeli rumah dan tanah bahkan beberapa kali pergi haji.  Memang kenyataan yang mengherankan tetapi nyata terjadi, bagi orang pendulangan mencari intan penuh dengan adab-adab yang harus mereka patuhi agar tidak terkena pamali dan melanggar aturan alam lain yang mereka percayai mengakibatkan intan lari menjauh ke dalam perut bumi. Berikut beberapa aturan pokok dan larangan yang harus ditaati saat mencari batu permata intan dengan cara mendulangnya di tanah Banjar Martapura ini :

DILARANG, bakacak pinggang (bertolak pinggang), mahambin tangan (jari-jari tangan direkatkan lalu diletakkan di leher seperti bantal), bersiul, dan perbuatan tak senonoh lainnya. Perilaku-perilaku seperti ini akan dianggap bentuk kesombongan dan tinggi hati terhadap intan yang akan dijemput, dan tentunya intan atau sigaluh tidak menyukainya dan akan pergi menjauhi sipendulang tersebut.

DILARANG, mengucapkan kata-kata kotor dan ada istilah-istilah tertentu yang harus diganti, misalnya saat menemukan ular di dalam lubang pendulangan maka penyebutannya diganti ‘akar’, kalau bertemu babi hutan maka diganti ‘du-ur’. Saat memasuki lubang pendulangan tidak boleh menyebut kata ‘turun’ meskipun kenyataannya gerakan tersebut turun tetapi harus disebut ‘naik/menaiki’. Ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa intan memiliki kekuatan untuk menghindari buruan, istilah ‘naik’ dipakai agar intan mau naik ke permukaan bila intan mendengar kata ‘turun’ maka intan akan kembali masuk Bumi.  Kemudian tidak boleh juga menyebutkan kata ‘jauhkan’ tapi diganti dengan kata 'parakakan' yang berarti tolong dekatkan. Untuk kata ‘makan’ diganti dengan ‘batirak’ atau ‘bamuat’ sebab kata ‘makan’ mengandung pengertian yang sadis seperti binatang memakan binatang lainnya. Hal ini semua dilakukan sebab intan akan menjauhi orang yang berkata tidak sopan.

SAMA SEKALI TIDAK BOLEH menyebut intan dengan sebutan ‘intan’ tetapi HARUS diganti ‘GALUH’ (panggilan kesayangan untuk anak perempuan Banjar). Ini berdasarkan kepercayaan bahwa intan adalah benda yang memiliki kekuatan dan bernyawa sehingga harus mendapat panggilan yang terhormat dan mesra setara dengan sebutan anak kesayangan atau puteri raja. Seringkali ada pendulang yang tidak sengaja menyebut ‘intan’ yang sudah mereka temukan tetapi tiba-tiba intan yang sudah ditangan tersebut menghilang atau berganti menjadi batu lain.

TIDAK DI PERBOLEHKAN seorang wanita yang sedang haid atau datang bulan datang dan mendekat di lokasi pendulangan, konon si Galuh sangat membenci orang yang dianggap ‘kotor’ dan selama masih ada wanita yang haid ini maka Galuh tidak mau datang, hingga intan pun tidak akan menampakan diri walau dengan susah payah dicari.

Selain hal-hal di atas ada juga istilah yang tidak boleh diucapkan yaitu kata dan ungakapan seperti ‘padi/beras/banih’ harus diganti dengan kata ‘biji’, hal ini akibat SUMPAH yang diucapkan intan kepada manusia akibat sakit hatinya intan terhadap perlakuan manusia kepadanya. Konon sumpah ini yang menyebabkan intan di tanah Banjar begitu sulit dicari sampai ke dalam perut Bumi.

Demikian tata cara dan pantangan yang harus dilakukan jika ingin mendulang intan di daerah kalimantan selatan khususnya di kabupaten Banjar Martapura ini. Semoga ini dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kita, dalam rangka memahami kearifan budaya dan nilai-nilai lokal yang ada di Nusantara ini. terimakasih,

CARA DAN TEKNIK MEMAINKAN ALAT MUSIK GENDANG BABUN KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Alat musik yang disebut BABUN ini dapat ditemukan hampir disetiap kampung di daerah Kabupaten dan Kotamadya yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan, yang biasanya ada pada group tari, group Kuda Gepang, group Wayang KUlit, Group Wayang Gong (wayang orang), group Mamanda, Group Japen, Group Pencak Silat dan Group-group lainnya.

Berikut ini cara dan Teknik memaminkan babun bagi alat penggiring musik dan tarian tradisional Kalimantan Selatan.

Alat musik Babun ini biasanya ditabuh oleh oleh pria dengan duduk bersila. Penabuh Babun ini dapat menempatkan Babunnya sesuai dengan keahliannya atau kebiasannya tangannya. Jika pemain biasa bekerja dengan tangan kanan, maka bagian PANG (rumpiang) di tempatkan di sebelah kanan, dan tampuk BAM (pambaduk) ditempatkan di sebelah kiri.

Pemain Babun
Dan sebaliknya jika ia mengutamakan tangan kiri (kidal) dalam bekerja sehari-hari, maka tampuk PANG (rumpiang) ditempatkan di sebelah kiri dan BAM (Pambaduk) di sebelah kanan.

Jadi penempatan alat musik ini terserah kepada keinginan dan kemampuan atau kebiasaan masing-masing pemainnya. Tetapi satu hal penting yang harus diperhatikan, sewaktu pemain sudah menabuh Babun ini, yaitu; lobang udara yang disebut lubang angin tersebut jangan sampai tertutup atau tersumbat.
Teknik Pukulan dan jenis bunyi yang dihasilkan :
  1. Untuk menimbulkan suara atau bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING", diperlukan suatu cara dan teknik memukul atau menabuh babun yaitu;
  2. Bunyi DUNG, didapatkan dengan seluruh tangan selalu dipukulkan pada BAM (Pembaduk) dan sehibis dipukulkan segera-cepat dilepaskan.
  3. Bunyi DENG, didapatkan dengan empat buah jari dipukul pada BAM (Pambaduk)dan empat buah ujung jari tangan disebelahnya ditekankan pada rumpiang (pang)
  4. Bunyi DUK, didapatkan dengan seluruh tapak tangan harus dipukulkan dan setalu ditekan rapat dan kuat pada BAM (Pambaduk) kemudian disebelah PANG (Rumpiang) juga ditekan kuat dengan tapak tangan yang berada di sebelah PANG (rumpiang) tersebut.
  5. Bunyi BLANG, didapatkan dengan seluruh tapak tangan dipukulkan kuat kemudian segera dilepas pada sebelah BAM (pambaduk) dan di sebelah rumpiang juga dipukul dengan telapak tangan, tetapi sedikit dilambatkan dari pukulan BAM (pambaduk) tadi, yang juga kemudian segera dilepaskan dari kulitnya.
  6. Bunyi PANG, didapatkan dengan tapak tangan seluruhnya dipukulkan pada kulit rumpiang dengan kurat dan segera dilepaskan, tetapi di BAM selalu ditekan dengan tapak tangan disebelahnya.
  7. Bunyi PAK, didapatkan dengan Tapak tangan dipukulkan pada kulit PANG (rumpiang) dengan kuat dan didiamkan begitu rupa, seangkan di BAM (PAMBADUK) seluruh tapak tangan ditekan dengan rapat dan jangan dilepaskan.
  8. Bunyi DING, didapatkan dengan empat buah ujung jari selalu dipukulkan di bagian sisi PANG (rumpiang) sebelah tempat kita duduk, dan di sebelah BAM (pambaduk) harus ditekan rapat dengan tapak tangan lainnya dan jangan dilepaskan.
  9. Bunyi DUUT, didapatkan dengan ujung jari yang disatukan rapat dengan ibu jari dan selalu digeserkan pada kulit PANG (rumpiang) persis di tengah-tengah, dan sebelah digeserkan sedikit dan didahului dengan getaran BAM (pambaduk) oleh empat ujung jari yang kemudian terus di lekatkan saja pada BAM (pambaduk) tersebut.
  10. Bunyi DERIIING, didapatkan dengan empat buah ujung jari tangan sebelah BAM (Pambaduk) dan sebelah PANG (rumpiang) selalu dipukulkan di bagian sisi PANG (RUMPIANG). Di tengah di tengah kulit bagian sebelah BAM (pambaduk) dengan silih berganti dipukul dengan cepat.
 

Alat musik yang bernama Babun ini pun diguanak sebagai instrumen penggiring baik dalam gamelan atau tetabuhan Banjar dan juga dalam orkes JAPEN BANJAR dan MUSIK PANTING.

Mengenai fungsi alat musik yang disebut BABUN ini di samping sebagai penentu, perubahan gerak dan langkah terutama dalam gerak tari, juga pengatur irama alam lagu-lagu. 

Demikian artikel singkat tentang cara dan teknik memainkan alat musik gendang babun dari Kalimantan Selatan ini. Semoga bermanfaat.

ALAT MUSIK TRADISIONAL GENDANG BABUN KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Jika kita berkunjung ke daerah di wilayah Kalimantan Selatan menikmati kesenian Banjar khususnya seni musik dan tarinya, maka kita akan mendengar dan melihat sebuah alat musik gendang khas Banjar yang sangat mendominasi setiap permainan kesenian musik dan tari di Kalimantan selatan, alat musik gendang ini disebut "Babun". 

Menurut organologi, babun ini termasuk ketegori membranophone yang dalam bahasa Indonesia disebut gendang. Prinsip bunyi dan penyuaraan adalah disebabkan getaran membran yang ada di kedua tampuk babun tersebut. Getaran ini diteruskan oleh udara yang ada di dalamnya dan keluar melalui lobang kecil yang ada pada rongga babun itu, dan akhirnya dapat menimbulkan bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING".

Bentuk rongganya bulat panjang yang terdiri dari dua tumpuk. Tumpuk yang kecil yang biasanya ditutupi dengan kulit kambing yang sering disebut tumpuk PANG yang sering pula disebut RUMPIANG. Sedangkan tumpuk yang besar biasanya ditutupi dengan kulit sapi yang disebut tumpuk BAM dan dengan istilah lain disebut PAMBADUK. Di rongga babun itu diberi dua lobang kecil yang sejajar disebut "luang" angin (Lobang angin). Gunanya untuk jalan keluarnya udara yang bergetar akbat getaran membaran, hingga suaranya kedengaran baik. Jika kedua lobang itu tertutup, suara babun itu kedengaran lembab. Di tiap tampuk rongga babun itu diberi dua buah bingkai.

Yang pertama adalah untuk penggulungan sisi kulit yang menutupinya, sedang bingkai yang satunya lagi untuk merenggangkan kulit penutup yang ada dikedua tampuk tersebut. Bingkai yang paling luar di kedua tampuk itu dililit dengan rotan yang telah diraut dan ditipiskan begitu rupa, dengan sebaik-baiknya. Kedua bingkai tersebut adalah untuk meletakan tali peregang yang disebut tali rajut.

Tali peregang ini dibuat dari rotan yang dibelah dua atau tiga yang kemudian diratakan/diraut. Di bagian BAM (pambaduk) tali rajut tersebut didempetkan begitu rupa dengan rotan yang dianyam atau sering pula dengan kulit yang dipotong kurang lebih 3 x 9 cm yang kemudian digulungkan ke tali rajut yang telah didempetkan tadi, sehingga dapat berfungsi sebagai alat peregang dari kedua membarannya. Alat peregang itu dalam istilah daerah disebut PANGANCANG BABUN.



BENTUK DAN JENIS-JENIS BABUN
 
Bentuk dan jenis babun yang ada di Daerah Kalimantan Selatan ada tiga macam yaitu; Babun Katingan, Babun Biasa dan Babun Basar (Besar). Seperti uraian berikut ini;

1. BABUN KATINGAN
Babun Katingan ini adalah babun dengan panjang 59 cm dan garis tengah tampuk PANG (rumpian) 18 cm, garis tengah tampuk BAM (pambaduk) 21 cm. Keliling bagian besarnya adalah 80 cm.

2. BABUN BIASA
Babun katingan - Babun Biasa
Babun biasa ini adalah babun biasa yang sering dimainkan dangan panjangnya sekitar 66 cm, garis tengah tampuk PANG (rumpiangnya) 32 cm, garis tengah tampuk BAM (Pambaduk) 35 cm serta keliling bagian yang terbesarnya adalah 130 cm.

3. BABUN BASAR
Babun Basar
Babun Basar (Besar) yang sering juga disebut dengan istilah BABUN GANAL adalah babun dengan panjangnya 78  cm, garis tengah tampuk PANG (rumpiang) 27 cm, garis tengah tampuk BAM (pambaduk) 32 cm, dan keliling bagian yang terbesarnya 131 cm.

Untuk mendapatkan bunyi DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING, maka kulit penutup kedua tampuk itu renggangkan. Jika tampuk PANG (rumpiang) yang akan direnggangkan, maka kita harus memukul bingkai yang da ditampuk tersebut sambil menggeser alat perenggang yang terletak ditampuk BAM disekeliling rongga babun tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika akan merenggangkan tampuk BAM (pambaduk), maka bingkai yang ada di tampuk BAM (pambaduk) itu dipukul arah ke tengah sambil menggeserkan alat perenggangnya.

Suatu kesalahan yang sering terjadi atau dilakukan orang yang kurang mengetahui, yaitu cara memukulnya. Bagi orang yang kurang mengetahui masalah babun kebanyakan orang memainkan babun dengan memukul bagian kulitnya yang ada pada sisi rongga babun itu, sehingga kulit pada sisi rongga babun itu cepat rusak, robek dan pecah. Seharusnya dalam memainkan babun yang dipukul bukan kulitnya tetapi bagian dekat bingkai tempat menyangkutnya tali pereggang tersebut.


BAGIAN-BAGIAN UTAMA BABUN

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai babun ini, maka kita perlu mengetahui bagian-bagian serta bahan-bahan yang dibuat.

Bagian yang pertama adalah rongga yang menurut istilah daerah kalimantan Selatan disebut "Karungkung" yang bentuknya untuk badan utama seperti gambar. Karungkung babun ini dibuat dari kayu Taras Jingah, Belangiran dan sering pula dari batang kelapa. Tampuk bagian pang (rumpiang) ditutupi dengan kulit kambing, dan tampuk bagian BAM (pembaduk) ditutupi dengan kulit sapi.

Disetiap tampuk tersebut diberi dua bingkai, yang bagian dalam untuk penggulung kulit penutup tampuk dan bagian luarnya yang dililit dengan rotan yang telah diraut tipis, gunanya untuk menenpatkan tali perenggang yang disebut tali rajut. Tali rajut itu kemudian antara yang satu dengan yang lain didempetkan begitu rupa dan ditahan dengan rotan yang dianyam, atau sering pula dengan potongan kulit yang berukuran 3 x 9 cm yang digulungkan. Alat itu adalah sebagai alat pereggang yang menurut istilah daerah banjar disebut "Paranggang Babun".


Pada alat musik babun ini, untuk menimbulkan suara atau bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING", diperlukan suatu cara dan teknik memukul atau menabuh babun (Baca Cara dan teknik memainkan babun di sini!!)

Alat musik yang disebut BABUN ini dapat ditemukan hampir disetiap kampung di daerah Kabupaten dan Kotamadya yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan, yang biasanya ada pada group tari, group Kuda Gepang, group Wayang KUlit, Group Wayang Gong (wayang orang), group Mamanda, Group Japen, Group Pencak Silat dan Group-group lainnya.

Pembuat atau pengrajin alat musik Babun ini secara khusus memang belum ada, tetapi pada setiap kampung itu biasanya pembuatannya dilakukan oleh para seniman pemain Babun yang bekerja sama dengan tukang-tukang kayu yang ada dikampungnya masing-masing. Dengan kerja sama ini dapatlah dihasilkan alat musik Babun yang sesuai dengan yang mereka inginkan.
Demikian tentang Alat Musik Tradisional Gendang Babun Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat, terimakasih.
Sumber/referensi: 
Ensiklopedi musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penenlitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1978/1979.   
 
Baca juga tentang Gedang dan rabana selengkapnya di sini !!

Baca juga Cara dan teknik memainkan babun di sini !!

TRADISI PINDAH RUMAH SUKU BUGIS "MAPPALETTE BOLA"

Indoborneonatural---Jaman sekarang Kalau mau pindahan rumah, yang pertama kita pikirkan tentu mau bongkar dulu rumahnya buat diangkut atau yang lebih praktis beli aja rumah baru. Nah, ini ada yang unik dengan adat budaya suku bugis, lain dengan jaman sekarang, apa yang dilakukan Suku Bugis tempo dulu sangat unik dan menarik, karena pindah rumah artinya adalah memindahkan rumah seutuhnya tanpa dibongkar-bongkar untuk dibawa ke lokasi yang baru yang disebut mappalette bola.

Pada jaman dahulu Rumah adat Suku Bugis memang berupa rumah panggung dari kayu yang mudah dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lain. Kegiatan mappalette bola yang dilakukan pada saat pemindahan tersebut kita bisa melihat budaya gotong royong warga satu kampung yang sekarang ini sudah mulai langka dan sangat jarang dijumpai.

Kegiatan dan upacara Pengangkatan rumah oleh warga satu kampung ini dikomandoi oleh ketua adat atau kepala kampung. Ketua kampung tersebut yang akan memberikan aba-aba kapan harus mengangkat, berjalan, kecepatan langkah dan sebagainya. Irama dan ritme perjalanan rumah terus diatur hingga rumah tepat berada dilokasi yang sudah ditentukan.

Menarik bukan,,.. kira-kira ada yang mau mencoba pindah rumah dengan cara ini ??

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.