MENGENAL ALAT MUSIK TARBANG DARI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Jika kita jalan-jalan ke Kalimantan Selatan khususnya ke daerah Martapura Kabupaten Banjar, maka kita akan melihat ragam kesenian tradisional masyarakat yang menggunakan alat musik sebagai pengiringnya. Salah satu alat musik yang juga banyak digunakan adalah alat musik "Tarbang" khas Kalimantan Selatan.

Menurut Ilmu tentang struktur instrumen musik berdasarkan sumber bunyi (Organologi), Alat musik Tarbang termasuk dalam kategori  Membranophone, yang dalam bahasa Indonesianya disebut "Terbang". Prinsip penyuaraannya adalah disebabkan getaran Membran yang ada pada muka tarbang tersebut. Dengan pukulan tertentu, membran tersebut dapat menghasilkan bunyi antara lain seperti : PANG, PRANG, BRING, DANG. DING, dan DUNG. Bunyi tersebut di dapatkan dan dihasilkan dari beberapa teknik dan cara pukulan tertentu terhadap Tarbang.

Menurut bentuknya Tabang yang ada di daerah Kalimantan Selatan ini terbagi atas dua macam, sebagaimana terlihat pada gambar-gambar di bawah ini:

Dua bentuk dan jenis Tarbang yang ada di daerah Kalimantan Selatan;


Kedua bentuk tarbang tersebut di atas dapat kita lihat pada tiga bagiannya, yaitu bagian muka, bagian rangka badan yang menurut istilah daerah banjar Kalimantan Selatan disebut "Karongkong". dan bagian belakang. Bagian muka biasanya ditutupi dengan kulit kambing. sedang Karongkongnya dibuat dari kayu "Jingah" atau kayu "Nangka".

Menurut klasifikasinya, Tarbang di daerah kalimantan Selatan terbagi atas empat macam, yaitu : Tarbang "Sinoman Hadrah", Tarbang "Madihin", Tarbang "Lamut" dan Tarbang "Burdah".

Alat Musik Tarbang, Alat Musik Pukul, Alat musik Kalsel, Art Instrument Traditional
Alat Musik Tarbang Jaman Dahulu
Tarbang "Sinoman Hadrah" yang dipakai sebagai pengiring kesenian "Sinoman Hadrah" dan "Rudat", merupakan tabang yang terkecil dari seluruh jenis-jenis Tarbang yang ada di Kalimantan Selatan. Ukuran jenis tengah mukanya 30 cm, garis tengah bagian belakang 25 cm, dan tinggi rongga badan 7 cm serta tebalnya 1 ¹/₂ cm. Di sekeliling rongganya terdapat 3 lobang. Sebuah lobang untuk pegangan tangan atau juga sering digunakan untuk menempatkan tali untuk menggantung tarbang tersebut dan dua lobang yang lainnya adalah untuk menempatkan lempengan besi yang telah digunting berupa lingkaran. Gunanya untuk menambah bunyi gemerincing pada Tarbang tersebut.

MENGENAL ALAT MUSIK KECAPI DARI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Salah satu alat musik instrumental dari Banua Banjar Propinsi Kalimantan Selatan adalah Kecapi. Secara Ilmu alat-alat musik (organologi) pada prinsip penyaraanya kecapat tergolong pada "kordofon", yang berarti bunyi terjadi karena getar dawai-dawai yang diregangkan. Tidak ada istilah yang dipergunakan untuk nama alat kecapi ini. Instrumen kecapi ini ditermuka di daerah Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, di desa Kanarum, 40 km dari kota Tanjung ibu kota Kabupaten Tabalong. Desa Kinarum adalah desa di Kecamatan, yang penduduknya terdiri dari sebagian besar Dayak Deyah. Jadi alat musik kecapi ini dimiliki sebagai alat musik tradisional suku Dayak Deyah.

Bentuk fisik alat kecapi ini seperti perahu dalam ukuran kecil. Bentuknya seperti Perahu perang Bugis yang berdagang di Nusantara. Secara garis besar kecapi terdiri dari beberapa bagian yaitu; Bagian badan, tangkai (tempat bertumpu dawai) dan bagian pemutar peninggikan/perendahan dawai.


Alat musik teradisional, Alat musik Kalsel, Kecapi Kalsel, Seni-budaya Indonesia, Budaya Banjar


Dawai hanya dua. Dawai terdiri dari akar sejenis kayu pohon-pohon yang disebut "unus".

Badan instrumen terbuat dari sejenis kayu khusus ditemukan dihutan desa Kinarum yang bernama 'sembawai". Jenis kayu lain tidak dibolehkan dijadikan bahan instrumen ini. Sesuai dengan kepecayaan yang dianut masyarakat di daerah ini. Jenis kayu ini dkhususkan juga untuk penyembuhan dan pengobatan orang sakit. Jenis kayu khusus yang terlihat ringan, seringan kayu "pelantan".

Cara membuat alat kecapi tradisional ini dilakukan secara tradisional juga. Kayu dipotong agak panjang dari ukuran seharusnya. Panjang kecapi  yang sudah jadi adalah 120 cm. Badan kecapi diraut dan dikeruk/dilobangi bagian bawahnya. Lobang ini menjadi kotak resonan. Meraut dan membentuk ini harus dilakuka dengan teliti sekali karena ketelitian inilah yang menentukan bunyi yang baik. Pada bagian pemuar/draier mempunyai ujung yang melengkung ke atas. Ujung yang melengkung inilah yang menentukan baik tidaknya bunyi. Setelah selesai membentuk kecapi yang mempunyai bunyi yang baik, barulah kecapi ini dikeringkan di panas matahari. Pengeringang cukup memakan waktu agak lama, yaitu kira-kira dua bulan. Sesudah keringa barulah dipasang tali dan draiernya. Ujung tali di badannya dimasukan ke dalam kotak resonan dan diberi buhul supaya tidak lepas. Tali kecapi yang dimasukan kedalam kotak resonannya harus melalui sisir/kam yang menjadi satu dengan badan kecapi atau kotak resonan.

Pada tangkainya/pegangan tangan untuk mengatur tinggi rendah nadanya ditempatkan 4 buah jembatan yang dapat digeser ke atas maupun ke bawah. Maksud ke atas adalah penggeseran jembatan mendekati draier, Sedangkan ke bawah berarti mendekati badan kecapi/kontak resonan.

Jembatan ini terbuat dari kayu tipis berbentuk trapesium. Jembatan adalah alat untuk dawai bertumpu. Dibagian bawah dari jembatan direkatkan sejenis karet mentah seperti odonan tepung yang diambil dari rumah binatang "wanyi", sejenis tawon. Gunanya karet ini ialah untuk merekatkan jembatan-jembatan bila dipindahkan kedudukannya. Antara jembatan yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh binatang kecil supaya tidak hilang bila jatuh terlepas dari rekatan.

Untuk Draier agar mampu menopang kinerja kecapi menjadi lebih baik, draier ini terbuat dari bahan kayu yang cukup keras agar tidak mudah patah.

Secara terperinci ukuran kecapi tersebut adalah :
Panjang seluruhnya 120 cm. Tinggi badan 7,5 cm ; lebar badan 11 cm pada bagian tengahnya. Tinggi/tebal tangkai 2,3 cm. Tebal ujung tangkai yang melengkung 3,25 cm. Panjang draier 10 cm, sedangkan tebalnya 1,25 cm pada bagian pemutar. Pada ujung pemutar tebalnya  0,7 cm.


Alat musik teradisional, Alat musik Kalsel, Kecapi Kalsel, Seni-budaya Indonesia, Budaya Banjar


Panjang tali 75 cm. Tebal jembatan tali bertumpu 1 x 1,5 x 2,25 cm. Tebal kam 2 x 2 x 2 cm pada bagian ujung tali yang dimasukkan menembus badan kecapi.

Untuk memainkan kecapi dapat dilakukan dengan duduk bersila di atas lantai, dibalai-balai ataupun duduk di kursi. Karena fungsi instrumen ini adalah sebagai melodi utama dalam iringan tarian "balian bukit", maka permainan alat ini umumnya dilaksanakan di atas lantai.

Kecapi dimainkan oleh orang yang telah ditentukan oleh Kepala adat/dukun. Badan kecapi diletakkan di atas paha kanan dan tangan kiri memegang tangkai untuk menekan tali dengan jari. Jari tangan kanan dipergunakan untuk memetik tali/dawai.

Jenis lagu yang dimainkan untuk tari balian bukit ada beberapa macam. Untuk Sang Hiah ?Wanang yang mempunyai kedudukan tertinggi di atara semua dewa biasanya mempergunakan lagu dengan nada tinggi.

Lagu yang dinyanyikan bernama "buncu kaling". Jembatan dipindahkan kebawah sehingga nadanya akan menjadi lebih tinggi. Untuk banyaknya nada yang dipakai adalah 4 nada. Tali pertama/dawai pertama mempunyai tinggi nada setinggi C sentral Dawai kedua setinggi D oktaf kecil.

Sejak kapan dipergunakannya kecapi ini sebagai alat penggiring dalam tarian 'balian bukit' suku dayak Deyah tidak diketahui dengan pasti. Bagi masyarakat desa Kinarum yang masih memeluk agama "Kaharingan/animisme" masih mengerjakan upacara-upacara yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Tari "balian bukit" adalah tari upacara penyembuhan/pengobatan orang sakit. Dukunnya bertindak sebagai Ketua upacara langsung menjadi penyanyinya. 

Demikian tentang alat musik kecapi dari Kalimantan Selatan.  Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

Baca juga alat musik Gong Kalsel!!

KISAH LEGENDA AGUNG KERAMAT " SI RABUT PARADAH" PANGERAN SURIANATA


Visiuniversal---Salah satu Alat musik instrumen dari daerah Kalimantan Selatan adalah Alat musik Agung. Alat Musik Agung ini dapat kita temukan sebagai alat musik instrumental penggiring kesenian musik dan tari daerah Kalimantan Selatan. Ada kisah dan legenda menarik tentang Agung ini yang dicerikan di tanah Banjar Kalimantan Selatan di masa lalu.

Agung asli peninggalan leluhur masyarakat Banjar tempo dulu tidak bisa kita temukan dengan mudah lagi. Menurut keterangan dari berbagai sumber bahwa Agung asli bersama alat gamelan Banjar lainnya yang diberi nama "Si Manggukecil" yang merupakan gamelan peninggalan kerajaan Banjar, menurut informasi Dinas Pariwisata sekarang alat musik agung tersebut masih berada di Museum Pusat Jakarta.

Sedangkan agung asli yang masih ada di daerah Kalimantan Selatan ini, konon tersebar dan terpisah dari gamelannya semula, yang sampai sekarang ini masih belum dapat diselidiki keberadaannya secara pasti.

Sebuah kisah dari sebagian penduduk daerah Kalimantan Selatan yang beranggapan bahwa "Agung Basar"  (Gong Besar) itu merupakan alat pusaka yang keramat, karena Konon Agung Basar tersebut adalah tempat berpijaknya seorang pangeran yang keluar dari dasar sungai. Pangeran tersebut adalah Raden Putera (keturunan Majapahit) yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Surianata.

Raden Putera adalah putera Majapahit yang pada waktu itu tidak berwujud manusia, diminta oleh penguasa Negara Dipa, Lambung Mangkurat untuk dapat pergi ke Negara Dipa mempersunting puteri Junjung Buih. Konon puteri junjung buih ini adalah puteri yang sangat cantik yang mendiami wilayah alam gaib di sungai sekitar daerah "Pandamaran". 

Dalam perjalanannya tepat di atas daerah Pandamaran, perahu yang ditumpangi Pangeran Raden Putera tiba-tiba mengalami hal yang aneh, angin tiba-tiba berhenti bertiup, air menjadi tenang, dan suasana alam hening dan kapal yang ditumpangi Raden Putera jadi terhenti tidak bergerak sama sekali.

Raden Putera yang mempunyai kesaktian dapat melihat bahwa itu bukan suatu kebetulan, ia mengatakan kepada semua awak kapal bahwa itu adalah perbuatan makhluk dari Alam lain, Raden Putera melihat di air terdapat beberapa ekor Naga berwarna Putih yang menahan kapal mereka dengan kekuatan gaibnya. Naga Putih ini adalah pengawal dan Rakyat dari Puteri Junjung Buih. Raden Putera pun terjun ke air untuk mengusir para Naga tersebut. Beberapa saat kemudian kapalpun bisa bergerak dan berjalan kembali, namun Raden Putera tidak muncul-muncul lagi dari dalam air, hilang bersama perginya para Naga tersebut.

Hampir lebih tiga hari para awak kapal dan Nahkoda menunggu dan mencari Raden Putera, tetap tidak ditemukan, maka seorang Wiramartas diutus lebih dahulu untuk mengambil sesajen berupa kerbau, kambing dan ayam ke Negara Dipa. Juga diwajibkan membawa para Menteri kerajaan untuk menyambut utusan Raja Majapahit yang membawa Hadiah dan barang persembahan.

Setelah Wiramartas sampai di Negara Dipa mengabarkan hilangnya Raden Putera, maka para tokoh Negara dipa seperti Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, segera memerintahkan para Menteri pergi ke Pandamaranhttp://indoborneonatural.blogspot.co.id/

Di Pandamaran dilakukan ritual dan persembahan. Sesudah ritual "mamuja" dan "membantan"  yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam lamanya selesai, tiba-tiba hal ajaib terjadi. Raden Putera muncul dari dalam air kepermukaan dengan wajah yang terlihat berseri-seri dan bercahaya memakai kain "tapih" sutera kuning yang indah. Sangat menakjubkan, luar biasanya lagi di kaki Raden Putera terlihat tempat berpijaknya adalah sebuah "Gung Basar" Gong Besar yang melayang di atas air. Setelah Raden Putera yang sekarang menjadi sangat tampan rupawan, mempesona, naik ke atas kapal. Lambung Mangkurat sebagai pimpinan rombongan memerintahkan mengait Gung Basar itu dengan "Paradah". Karena itulah Agung itu sampai sekarang di masyarakat banjar dikenal dengan nama "Si Rabut Paradah". Sejak saat itu Raden Putera pun selanjutnya di beri gelar "Suryanata" atau yang berarti "Raja Matahari".
http://indoborneonatural.blogspot.co.id/



Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

INILAH SARANA ANGKUTAN SUNGAI DI PERAIRAN KOTA BANJARMASIN


Indoborneonatural---Membicarakan transportasi di Kota Banjarmasin yang dikenal dengan julukan kota seribu sungai, tentu tidak terlepas dari masalah transportasi sungai yang mememang memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik sarana angkutan sungai di Perairan Kota Banjarmasin adalah sarana transportasi dan angkutan yang memang khas menyesuaikan dengan lingkungan alam yang bercirikan kehidupan masyarakat kota Banjarmasin yang tidak terlepas dengan budaya sungai.

Secara umum sungai-sungai di Kota Banjarmasin terbagi menjadi tiga jenis sungai yaitu Sungai Besar, Sungai sedang dan Sungai kecil :

1. Sungai Besar
Sungai besar ini memiliki ciri dan bentuk berupa (Lebar>50 m), panjang 48.271 m, Jumlah sungai besar ini ada 3 (tiga) buah yaitu Sungai Barito, Sungai Martapura dan sungai Alalak.

2. Sungai Sedang
Sungai sedang ini memiliki ciri dan bentuk berupa (15 m <Lebar<50 m), panjang 87.296 m, Jumlah sungai sedang ini ada 45 buah, yang terkenal antara lain Sungai kuin, Sungai Andai, Sungai Awang, Sungai Jafri Zam-zam, Sungai Duyung, Sungai Kelayan, dll.

3. Sungai kecil
Sungai kecil ini memiliki ciri dan bentuk berupa (Lebar<15 m), panjang 49.736 m, Jumlah sungai sedang ini ada 54 buah, yang terkenal antara lain Sungai Lumbah, Sungai Lulut, Sungai Guring, Sungai Tatas, Sungai Keramat, Sungai Kuripan, dll.

Sungai Lulut

Dalam rangka transfortasi melewati sungai-sungai tersebut, ada beberapa jenis angkutan sungai sebagai sarana transfortasi sungai di perairan kota Banjarmasin antara lain :

1. Perahu Jukung
2. Motor Getek Klotok / MG
3. Kapal Motor / KM
4. Truk Air / TA
5. Bus Air / BA
6. Speed Boat / SB
7. Long Boat / LB
8. Kapal Motor Penyebrangan/KMP

Untuk mendukung kegiatan transfortasi dan sarana angkutan sungai di perairan Kota Banjarmasin ini, terdapat beberapa dermaga yang tersebar di beberapa titik di sungai di Kota Banjarmasin. Dermaga-dermaga tersebut antara lain :

1. Dermaga Alalak
2. Dermaga Banjar Raya
3. Dermaga Pasar Lima
4. Dermaga Ujung Murung
5. Dermaga Pasar Baru

Demikian tentang sarana angkutan sungai di Perairan Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan, Semoga artikel ini bermanfaat. Terimakasih.

ASAL MULA SENI PERTUNJUKAN TEMBANG CIANJURAN

Di tempat kelahirannya, Cianjuran, sebenarnya asal mulanya nama kesenian ini adalah mamaos. Dinamakan tembang Sunda Cianjuran sejak tahun 1930-an dan dikukuhkan tahun 1962 ketika diadakan Musyawarah Tembang Sunda sa-Pasundan di Bandung. Seni mamos merupakan seni vokal Sunda dengan alat musik kecapi indung, kecapi ricik, suling, dan atau rebab.

Mamos terbentuk pada masa pemerintahan bupati Cianjur RAA. Kusumaningrat sekitar tahun 1834-1864. Bupati kusuma ningrat dalam membuat lagu sering bertempat di sebuah bangunan bernama Pancaniti. Oleh karena itu dia terkenal dengan nama Kanjeng Pancaniti. Pada mulanya mamamos dinyanyikan oleh kaum pria. Baru pada perempat pertama abad ke-20 mamaos bisa dipelajari oleh kaum wanita. Hal ini terbukti dengan munculnya para juru mamaos wanita, seperti Rd. Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Omong, Ibu O'oa, Ibu Resna, Dan Nyi Mas Saodah.

Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suada Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca),dengung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun tau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Keduanya menunjukan pada peraturan rumpaka (teks). Sedangkan teknik vokal keduanya menggunakan bahan-bahan olahan vokal Sunda. Namun demikian pada akhirnya kedua teknik pembuatan rumpaka ini ada yang digabungkan. Lagu-lagu papantunan pun banyak yang dibuat dengan aturan pupuh.

Pada masa awal penciptaannya, Cianjuran merupakan revitalisasi dari seni Pantun. Kecapi dan teknik memainkannya masih jelas dan seni Pantun. Begitu pula lagu-lagunya hampir semuanya dari sajian seni Pantun. Rumpaka lagunya pun mengambil dari cerita Pantun Mundinglaya Dikusumah.
 
Pada masa pemerintahan bupati RAA. Prawiradirejdja II kesenian mamaos mulai menyebar ke daerah lain. Rd. Etje Madjid Natawiredja adalah diantara tokoj mamaos yang berperan dalam penyebaran ini. Dia sering diundang untuk mengajarkan mamaos ke kabupaten-kabupaten di Priangan, di antaranya oleh bupati Bandung RAA. Martanagara (1893-1918) dan RAA. Wiranatakoesoemah. Ketika mamaos menyebar ke daerah lain dan lagu-lagu yang menggunakan pola pupuh telah banyak, maka masyarakat di luar Cianjur (dan beberapa perkumpulan di Cianjur) menyebut mamaos dengan nama tembang Sunda atau Cianjuran, karena kesenian ini khas dan berasal dari Cianjur. Demikian pula ketiak radio NIROM Bandung tahun 1930-an menyiarkan kesenian ini menyebutkan dengan tembang Cianjuran.
 
Sebenarnya istilah mamaos hanya menunjukan pada lagu-lagu yang berpolakan pupuh (tembang), karena istilah mamaos merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan cara dinyanyikan. Buku wawacan yang menggunakan aturan pupuh ini ada yang dilagukan dengan teknik nyanyian rancag dan teknik beluk. Lagu-lagu mamaos berlasar pelog (dengung), sorog (nyorog; madenda), salero, serta mandalungan. Berdasarkan bahan asal dan sifat lagunya mamaos dikelompokan dalam beberapa wanda yaitu: papantunan, jejemplangan, dedengungan, dan raracagan. Sekarang ditambah pula jenis kakawen dan panambih sebagai wanda tersendiri. Lagu-lagu mamaos dari jenis tembang banyak menggunakan pola pupuh Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta ada diantaranya lagu dari pupuh lainnya.
 
Lagu-lagu dalam wanda papantunan diantaranya Papatat, Rajamantri, mupu Kembang, Randegan, Randegan Kendor, Kaleon, Manyeuseup, Balagenyat, Putri Layar, Pengapungan, Rajah, Gelang Gading, Candrawulan, dsb. Sementara dalam wanda jejemplangan diantaranya terdiri dari Jemplang Panganten, Jemplang Cidadap, Jemplang Leumpang, Jemplang Titi, Jemplang Pamiring. dsb. Wanda dedengungan di antaranya Sinom Degung, Asmarandana Degung, Durma Degung, Dangdanggula Degung, Rumangsang Degung, Panangis Degung dan sebagainya. Wanda raracangan di antaranya; Manangis, Bayubud, Sinom Polos, Kentar Cisaat, Kentar Ajun, Sinom Liwung, Asmarandana Rancag, Setra, Satria, Kulu-kulu Barat, Udan Mas, Udan Iris, Dangdanggula Pancaniti, Garutan, Porbalinggo, Erang Barong dan sebagainya. Wanda Kakawen diantaranya: Sebrakan Sapuratina, Sebrakan Pelog, Toya Mijil, Kayu Agung, dan sebagainya. Wanda panambih di antaranya: Budak Ceurik, Toropongan, Kulu-kulu Gandung Gunung, Renggong Gede, Penyileukan, Selabintana, Soropongan, dsb.

Pada mulanya mamaos berfungsi sebagai musik hiburan alat silaturahmi di antara kaum menak. Tetapi mamaos sekarang, disamping masih seperti fungsi semula, juga telah menjadi seni hiburan yang bersifat profit oleh para senimannya seperti kesenian. Mamaos sekarang dipakai dalam hiburan hajatan perkawinan, khitanan, dan berbagai keperluan hiburan atau acara adat.

Demikian tentang Seni pertunjukan tembang Cianjuran alias Mamaos ini, semoga bermanfaat untuk menambang ilmu pengetahuan kita tentang kesenian nusantara pada umumnya, terimakasih.

MENGENAL KOTA DODOL KANDANGAN KALIMANTAN SELATAN

Tugu Dodol, dodol kandangan, kota kandangan, kota dodol kalsel
Indoborneonatural--Jika berbicara tentang dodol di Kalimantan Selatan, maka orang-orang pasti menghubungkannya dengan Kota Kandangan. Kandangan adalah sebuah kecamatan sekaligus ibukota kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Kandangan terletak di tepi sungai Amandit dan berjarak 135 km disebelah utara Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Menuju kota kandangan dapat ditempuh dengan jalan darat kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil.

Kandangan terkenal dengan makanan-makanan antara lain dodol, lemang, dan ketupat khas Kandangan.Dodol ini dikenal sebagai dodol terenak di kota seribu sungai ini.  Makanan khas Banjarmasin ini sangat cocok untuk dijadikan teman santai di sore hari sembari menikmati secangkir the hangat bersama keluarga.  Sesuai dengan namanya, Dodol Kandangan berasal dari Daerah Kandangan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sekilas dodol yang satu ini terlihat sama dengan dodol-dodol pada umumnya. Namun sebenarnya dodol ini sangat berbeda dilihat dari tekstur dan rasanya. Dodol Kandangan terasa lebih manis dan memiliki tekstur yang sangat lembut.

Tentu saja makanan khas daerah Kandangan ini sangat nikmat untuk disantap. Apalagi untuk anda para pecinta makanan manis. Ada salah satu pengusaha Dodol Kandangan yang sangat terkenal di Daerah Kandangan. Beliau bernama Ibu Noor Jannah.

Beliau merupakan generasi pertama dari pengusaha dodol Kandangan terkenal yang ada di Daerah Kandangan. Anda dapat menemukan pusat penjualan Dodol Kandangan di Daerah Kandangan ini. nah, bagi anda yang kebetulan sedang berkunjung ke Banjarmasin tepatnya di Daerah Kandangan, jangan lupa beli Dodol Kandangan untuk anda jadikan camilan selama di perjalanan liburan anda.

Jangan lupa beli lebih banyak lagi sebagai oleh-oleh khas Banjarmasin untuk keluarga, kerabat, dan para sahabat tercinta. Pastinya mereka akan menyukai warisan kuliner asli Kalimantan Selatan ini.
Dodol Kandangan juga banyak dijual di pusat-pusat oleh-oleh di Kota Banjarmsin. Jadi anda tidak akan menemui kesulitan untuk menemukanya. Ada banyak kios pusat oleh-oleh tersebar di berbagai penjuru Kota Banjarmasin. Apalagi di sekitar jalan-jalan protokol Kota Banjarmasin.

Anda hanya tinggal pilih kios  atau toko  oleh-oleh mana yang akan anda kunjungi. Harga per kemasannya juga cukup terjangkau. pokoknya anda tidak akan rugi membeli Dodol Kandangan ini untuk anda bawa pulang ke kota asal anda.

Anda juga tak perlu khawatir dodol ini akan basi sesampainya di rumah karena dodol ini awet hingga beberapa hari. Dodol Kandangan awet bukan karena mengandung bahan pengawet, melainkan kandungan gula arennya yang membuat dodol ini bisa bertahan hingga beberapa hari lamanya.

Demikian tentang Kota Dodol Kandangan ini, silakan berkunjung ke kota kandangan dan ikut menikmati lezatnya dodol dan ketupat kandangan yang terkenal di kota ini. Terimakasih.

INILAH BEBERAPA ILMU TAGUH (KEBAL) URANG BANJAR KALSEL

Indoborneonatural---Di Nusantara ini yang dipenuhi dengan berbagai jenis Ilmu kanuragan, ada banyak sekali terdapat berbagai jenis ilmu kebal, baik kebal sejatan tajam, kebal api, kebal pukul sampai kebal terhadap senjata api. Metode dan bentuk amalannyapun ada berbagai macam, mulai dari jenis jimat, amalan, untalan, minyak dan lain sebagainya yang secara garis besar terbagi menjadi dua aliran, aliran hitam dan aliran putih. Nah berikut ini ada beberapa ajian atau ilmu kebal (Taguh) yang ada di masyarakat banjar Kalimantan Selatan menurut urang bahari antara lain :

1.
Buntat kalimbuai
2.untalan minyak bintang
3.untalan minyak gilingan gangsa
4.untalan rangka hirang
5.untalan minyak gajah
6.untalan minyak sulingan mayat
7.untalan bulu barabiaban
8.sumping takau
9.buntut anoman
10.taring pelanduk(jimat)
11.wasi kuning(jimat)
12.picis mimang(jimat)
13.tanduk kucing(jimat)
14.andung laki sampuk buku(jimat)
15.haur sampuk buku(jimat)
16.kulit kijang putih(jimat)
17.daun taguh sahari(jimat)
18.kakamban hantu beranak(jimat)
19.sulang kambing
20.
Untalan minyak sambung nyawa 
21.kalang sawa
22.batu patir
23.buntat ulin
24.ulin manang
25.sampuk sisik(lampahan)
26.pekat sambung buku
27.taguh kurung-kurung(bawaan dr lahir)
28.tapa banyu(jenis mandi)
29.Mandi dlm tapih kuitan(mandi dlm tapih wasi)
30.Hayam ualangan


Demikian daftar atau jenis-jenis ilmu ajian taguh atau kebal masyarakat banjar di daerah Kalimantan Selatan yang penulis ketahui, semoga tulisan ini bermanfaat, jika ada agan atau saudara-saudaraku mengetahui ajian taguh lainnya, mohon dishare disini ya..terimakasih.

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.