CARA DAN TEKNIK MEMAINKAN ALAT MUSIK GENDANG BABUN KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Alat musik yang disebut BABUN ini dapat ditemukan hampir disetiap kampung di daerah Kabupaten dan Kotamadya yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan, yang biasanya ada pada group tari, group Kuda Gepang, group Wayang KUlit, Group Wayang Gong (wayang orang), group Mamanda, Group Japen, Group Pencak Silat dan Group-group lainnya.

Berikut ini cara dan Teknik memaminkan babun bagi alat penggiring musik dan tarian tradisional Kalimantan Selatan.

Alat musik Babun ini biasanya ditabuh oleh oleh pria dengan duduk bersila. Penabuh Babun ini dapat menempatkan Babunnya sesuai dengan keahliannya atau kebiasannya tangannya. Jika pemain biasa bekerja dengan tangan kanan, maka bagian PANG (rumpiang) di tempatkan di sebelah kanan, dan tampuk BAM (pambaduk) ditempatkan di sebelah kiri.

Pemain Babun
Dan sebaliknya jika ia mengutamakan tangan kiri (kidal) dalam bekerja sehari-hari, maka tampuk PANG (rumpiang) ditempatkan di sebelah kiri dan BAM (Pambaduk) di sebelah kanan.

Jadi penempatan alat musik ini terserah kepada keinginan dan kemampuan atau kebiasaan masing-masing pemainnya. Tetapi satu hal penting yang harus diperhatikan, sewaktu pemain sudah menabuh Babun ini, yaitu; lobang udara yang disebut lubang angin tersebut jangan sampai tertutup atau tersumbat.
Teknik Pukulan dan jenis bunyi yang dihasilkan :
  1. Untuk menimbulkan suara atau bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING", diperlukan suatu cara dan teknik memukul atau menabuh babun yaitu;
  2. Bunyi DUNG, didapatkan dengan seluruh tangan selalu dipukulkan pada BAM (Pembaduk) dan sehibis dipukulkan segera-cepat dilepaskan.
  3. Bunyi DENG, didapatkan dengan empat buah jari dipukul pada BAM (Pambaduk)dan empat buah ujung jari tangan disebelahnya ditekankan pada rumpiang (pang)
  4. Bunyi DUK, didapatkan dengan seluruh tapak tangan harus dipukulkan dan setalu ditekan rapat dan kuat pada BAM (Pambaduk) kemudian disebelah PANG (Rumpiang) juga ditekan kuat dengan tapak tangan yang berada di sebelah PANG (rumpiang) tersebut.
  5. Bunyi BLANG, didapatkan dengan seluruh tapak tangan dipukulkan kuat kemudian segera dilepas pada sebelah BAM (pambaduk) dan di sebelah rumpiang juga dipukul dengan telapak tangan, tetapi sedikit dilambatkan dari pukulan BAM (pambaduk) tadi, yang juga kemudian segera dilepaskan dari kulitnya.
  6. Bunyi PANG, didapatkan dengan tapak tangan seluruhnya dipukulkan pada kulit rumpiang dengan kurat dan segera dilepaskan, tetapi di BAM selalu ditekan dengan tapak tangan disebelahnya.
  7. Bunyi PAK, didapatkan dengan Tapak tangan dipukulkan pada kulit PANG (rumpiang) dengan kuat dan didiamkan begitu rupa, seangkan di BAM (PAMBADUK) seluruh tapak tangan ditekan dengan rapat dan jangan dilepaskan.
  8. Bunyi DING, didapatkan dengan empat buah ujung jari selalu dipukulkan di bagian sisi PANG (rumpiang) sebelah tempat kita duduk, dan di sebelah BAM (pambaduk) harus ditekan rapat dengan tapak tangan lainnya dan jangan dilepaskan.
  9. Bunyi DUUT, didapatkan dengan ujung jari yang disatukan rapat dengan ibu jari dan selalu digeserkan pada kulit PANG (rumpiang) persis di tengah-tengah, dan sebelah digeserkan sedikit dan didahului dengan getaran BAM (pambaduk) oleh empat ujung jari yang kemudian terus di lekatkan saja pada BAM (pambaduk) tersebut.
  10. Bunyi DERIIING, didapatkan dengan empat buah ujung jari tangan sebelah BAM (Pambaduk) dan sebelah PANG (rumpiang) selalu dipukulkan di bagian sisi PANG (RUMPIANG). Di tengah di tengah kulit bagian sebelah BAM (pambaduk) dengan silih berganti dipukul dengan cepat.
 

Alat musik yang bernama Babun ini pun diguanak sebagai instrumen penggiring baik dalam gamelan atau tetabuhan Banjar dan juga dalam orkes JAPEN BANJAR dan MUSIK PANTING.

Mengenai fungsi alat musik yang disebut BABUN ini di samping sebagai penentu, perubahan gerak dan langkah terutama dalam gerak tari, juga pengatur irama alam lagu-lagu. 

Demikian artikel singkat tentang cara dan teknik memainkan alat musik gendang babun dari Kalimantan Selatan ini. Semoga bermanfaat.

ALAT MUSIK TRADISIONAL GENDANG BABUN KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Jika kita berkunjung ke daerah di wilayah Kalimantan Selatan menikmati kesenian Banjar khususnya seni musik dan tarinya, maka kita akan mendengar dan melihat sebuah alat musik gendang khas Banjar yang sangat mendominasi setiap permainan kesenian musik dan tari di Kalimantan selatan, alat musik gendang ini disebut "Babun". 

Menurut organologi, babun ini termasuk ketegori membranophone yang dalam bahasa Indonesia disebut gendang. Prinsip bunyi dan penyuaraan adalah disebabkan getaran membran yang ada di kedua tampuk babun tersebut. Getaran ini diteruskan oleh udara yang ada di dalamnya dan keluar melalui lobang kecil yang ada pada rongga babun itu, dan akhirnya dapat menimbulkan bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING".

Bentuk rongganya bulat panjang yang terdiri dari dua tumpuk. Tumpuk yang kecil yang biasanya ditutupi dengan kulit kambing yang sering disebut tumpuk PANG yang sering pula disebut RUMPIANG. Sedangkan tumpuk yang besar biasanya ditutupi dengan kulit sapi yang disebut tumpuk BAM dan dengan istilah lain disebut PAMBADUK. Di rongga babun itu diberi dua lobang kecil yang sejajar disebut "luang" angin (Lobang angin). Gunanya untuk jalan keluarnya udara yang bergetar akbat getaran membaran, hingga suaranya kedengaran baik. Jika kedua lobang itu tertutup, suara babun itu kedengaran lembab. Di tiap tampuk rongga babun itu diberi dua buah bingkai.

Yang pertama adalah untuk penggulungan sisi kulit yang menutupinya, sedang bingkai yang satunya lagi untuk merenggangkan kulit penutup yang ada dikedua tampuk tersebut. Bingkai yang paling luar di kedua tampuk itu dililit dengan rotan yang telah diraut dan ditipiskan begitu rupa, dengan sebaik-baiknya. Kedua bingkai tersebut adalah untuk meletakan tali peregang yang disebut tali rajut.

Tali peregang ini dibuat dari rotan yang dibelah dua atau tiga yang kemudian diratakan/diraut. Di bagian BAM (pambaduk) tali rajut tersebut didempetkan begitu rupa dengan rotan yang dianyam atau sering pula dengan kulit yang dipotong kurang lebih 3 x 9 cm yang kemudian digulungkan ke tali rajut yang telah didempetkan tadi, sehingga dapat berfungsi sebagai alat peregang dari kedua membarannya. Alat peregang itu dalam istilah daerah disebut PANGANCANG BABUN.



BENTUK DAN JENIS-JENIS BABUN
 
Bentuk dan jenis babun yang ada di Daerah Kalimantan Selatan ada tiga macam yaitu; Babun Katingan, Babun Biasa dan Babun Basar (Besar). Seperti uraian berikut ini;

1. BABUN KATINGAN
Babun Katingan ini adalah babun dengan panjang 59 cm dan garis tengah tampuk PANG (rumpian) 18 cm, garis tengah tampuk BAM (pambaduk) 21 cm. Keliling bagian besarnya adalah 80 cm.

2. BABUN BIASA
Babun katingan - Babun Biasa
Babun biasa ini adalah babun biasa yang sering dimainkan dangan panjangnya sekitar 66 cm, garis tengah tampuk PANG (rumpiangnya) 32 cm, garis tengah tampuk BAM (Pambaduk) 35 cm serta keliling bagian yang terbesarnya adalah 130 cm.

3. BABUN BASAR
Babun Basar
Babun Basar (Besar) yang sering juga disebut dengan istilah BABUN GANAL adalah babun dengan panjangnya 78  cm, garis tengah tampuk PANG (rumpiang) 27 cm, garis tengah tampuk BAM (pambaduk) 32 cm, dan keliling bagian yang terbesarnya 131 cm.

Untuk mendapatkan bunyi DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING, maka kulit penutup kedua tampuk itu renggangkan. Jika tampuk PANG (rumpiang) yang akan direnggangkan, maka kita harus memukul bingkai yang da ditampuk tersebut sambil menggeser alat perenggang yang terletak ditampuk BAM disekeliling rongga babun tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika akan merenggangkan tampuk BAM (pambaduk), maka bingkai yang ada di tampuk BAM (pambaduk) itu dipukul arah ke tengah sambil menggeserkan alat perenggangnya.

Suatu kesalahan yang sering terjadi atau dilakukan orang yang kurang mengetahui, yaitu cara memukulnya. Bagi orang yang kurang mengetahui masalah babun kebanyakan orang memainkan babun dengan memukul bagian kulitnya yang ada pada sisi rongga babun itu, sehingga kulit pada sisi rongga babun itu cepat rusak, robek dan pecah. Seharusnya dalam memainkan babun yang dipukul bukan kulitnya tetapi bagian dekat bingkai tempat menyangkutnya tali pereggang tersebut.


BAGIAN-BAGIAN UTAMA BABUN

Untuk mengetahui lebih banyak mengenai babun ini, maka kita perlu mengetahui bagian-bagian serta bahan-bahan yang dibuat.

Bagian yang pertama adalah rongga yang menurut istilah daerah kalimantan Selatan disebut "Karungkung" yang bentuknya untuk badan utama seperti gambar. Karungkung babun ini dibuat dari kayu Taras Jingah, Belangiran dan sering pula dari batang kelapa. Tampuk bagian pang (rumpiang) ditutupi dengan kulit kambing, dan tampuk bagian BAM (pembaduk) ditutupi dengan kulit sapi.

Disetiap tampuk tersebut diberi dua bingkai, yang bagian dalam untuk penggulung kulit penutup tampuk dan bagian luarnya yang dililit dengan rotan yang telah diraut tipis, gunanya untuk menenpatkan tali perenggang yang disebut tali rajut. Tali rajut itu kemudian antara yang satu dengan yang lain didempetkan begitu rupa dan ditahan dengan rotan yang dianyam, atau sering pula dengan potongan kulit yang berukuran 3 x 9 cm yang digulungkan. Alat itu adalah sebagai alat pereggang yang menurut istilah daerah banjar disebut "Paranggang Babun".


Pada alat musik babun ini, untuk menimbulkan suara atau bunyi berupa; "DUNG, DENG, DUK, BLANG, PANG PAK, DING DUUT, DERIIIING", diperlukan suatu cara dan teknik memukul atau menabuh babun (Baca Cara dan teknik memainkan babun di sini!!)

Alat musik yang disebut BABUN ini dapat ditemukan hampir disetiap kampung di daerah Kabupaten dan Kotamadya yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan, yang biasanya ada pada group tari, group Kuda Gepang, group Wayang KUlit, Group Wayang Gong (wayang orang), group Mamanda, Group Japen, Group Pencak Silat dan Group-group lainnya.

Pembuat atau pengrajin alat musik Babun ini secara khusus memang belum ada, tetapi pada setiap kampung itu biasanya pembuatannya dilakukan oleh para seniman pemain Babun yang bekerja sama dengan tukang-tukang kayu yang ada dikampungnya masing-masing. Dengan kerja sama ini dapatlah dihasilkan alat musik Babun yang sesuai dengan yang mereka inginkan.
Demikian tentang Alat Musik Tradisional Gendang Babun Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat, terimakasih.
Sumber/referensi: 
Ensiklopedi musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penenlitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah tahun 1978/1979.   
 
Baca juga tentang Gedang dan rabana selengkapnya di sini !!

Baca juga Cara dan teknik memainkan babun di sini !!

TRADISI PINDAH RUMAH SUKU BUGIS "MAPPALETTE BOLA"

Indoborneonatural---Jaman sekarang Kalau mau pindahan rumah, yang pertama kita pikirkan tentu mau bongkar dulu rumahnya buat diangkut atau yang lebih praktis beli aja rumah baru. Nah, ini ada yang unik dengan adat budaya suku bugis, lain dengan jaman sekarang, apa yang dilakukan Suku Bugis tempo dulu sangat unik dan menarik, karena pindah rumah artinya adalah memindahkan rumah seutuhnya tanpa dibongkar-bongkar untuk dibawa ke lokasi yang baru yang disebut mappalette bola.

Pada jaman dahulu Rumah adat Suku Bugis memang berupa rumah panggung dari kayu yang mudah dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang lain. Kegiatan mappalette bola yang dilakukan pada saat pemindahan tersebut kita bisa melihat budaya gotong royong warga satu kampung yang sekarang ini sudah mulai langka dan sangat jarang dijumpai.

Kegiatan dan upacara Pengangkatan rumah oleh warga satu kampung ini dikomandoi oleh ketua adat atau kepala kampung. Ketua kampung tersebut yang akan memberikan aba-aba kapan harus mengangkat, berjalan, kecepatan langkah dan sebagainya. Irama dan ritme perjalanan rumah terus diatur hingga rumah tepat berada dilokasi yang sudah ditentukan.

Menarik bukan,,.. kira-kira ada yang mau mencoba pindah rumah dengan cara ini ??

ALAT MUSIK AGUNG KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---alat musik Agung dari Kalimantan Selatan ini dapat kita temukan sebagai alat musik instrumental penggiring kesenian musik dan tari daerah Kalimantan Selatan. Agung kategori menurut alat ini termasuk Idiophone yang dalam bahasa Indonesianya bernama Gong. Perisip penyuaraannya adalah getaran udara yang ditimbulkan oleh getaran dari benda padu yang lentur dalam batang tubuh agung tersebut.
Alat Musik Agung Kalsel
Berdasarkan bentuk jika dilihat dari dada bidangnya, maka bentuk agung tersebut tidak ubahnya sebagai lingkaran, bagian-bagian dari Agung tersebut adalah :
  1. Dada agung yang kelihatannya seperti lingkaran
  2. Dada tengah yang terdapat di antara dada sisi dengan susu agung
  3. Susu agung yang terapat di bagian tengah yang agak menonjol
  4. Tapih agung yang terdapat di bagian sisi yang merupakan bingkai.

Di daerah Kalimantan Selatan, baik di Banjarmasin, Batola ataupun Banua Anam terdapat 3 macam agung yaitu :
Agung kecil yang disebut dengan "Kakampul". Agung jenis ini sering digunakan orang dalam permainan silat, Kuda Gipang yang memakai Kurung-kurung (Angkelong).
Agung biasa yang bentuknya lebih besar dari Kakampul, Jenis agung ini digunakan sebagai pengiring dalam kesenian Kuda Gipang yang memakai gamelan, kesenian Mamanda, Kesenian Japen, dan banyanyian (belagu-lagu).
Agung Basar (besar) yang digunakan orang dalam kesenian Wayang Kulit, Wayang Gung (wayang orang), serta jenis tarian Baksa.

MACAM-MACAM AGUNG
Tiap macam jenis-jenis agung tersebut di atas mempunyai ukuran dan dada yang berbeda-beda.
  1. Agung kecil yang sering disebut dengan Kakampul itu garis tengah dada mukanya 34 cm, dada tengahnya bergaris tengah 20 cm, garis tengah susunya 8 1/2 cm, dalam susunya 4 cm, garis tengah bagian belakangnya 28 cm, dan lebar tapihnya 12 cm.
  2. Agung biasa, garis tengah dada mukanya 55 cm, dada tengahnya bergaris tengah 34 cm, garis tengah susunya 13 cm, dalamnya 5 cm, garis tengah bagian belakangnya 45 cm dan lebar tapihnya 13 1/2 cm.
  3. Agung Basar (Besar), garis tengah mukanya 75 cm, garis tengah dda bagian tengah 52 cm, garis tengah susu 17 cm, dalam susu 41/2 garis tengah bagian belakang 66 cm dan lebar tapihnya 18 cm.

BAHAN DAN PEMBUATAN AGUNG

Agung ada yang terbuat dari "Ganggsa" bercampur kuningan, dan ada pula yang terbuat dari besi biasa. Menurut keterangan beberapa sumber bahwa agung yang ada sekarang ini kebanyakan warisan dari nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu. Hal ini mereka ketahui dari tutur yang mereka terima dari nenek atau orang tua mereka secara turun-temurun. Selain dari agung-agung yang terbuat dari Gangsa bercampur kuningan tersebut, ada pula kita temui agung yang terbuat dari besi biasa, yang terbuat dari besi plat atau bekas drum (tong) minyak.

Agung seperti ini dibuat di daerah Murung Pudak, Kabupaten Tabalong. Namun sekarang ini pembuatan agung tersebut sudah tidak ada lagi. Untuk memainkan alat musik yang bernama Agung ini, biasanya orang duduk dengan tertib. Apabila laki-laki, biasanya duduk bersila dan bagi perempuan biasanya duduk bersimpuh menghadapi agung yang tergantung di hadapannya. Tangan kanan atau kiri memegang pemukulnya sambil menunggu irama. Tangan yang sebelahnya (tangan kiri) jika memegang pemukul tangan kanan, dan sebaliknya jika memegang pemukul tangan kiri maka yang dimaksud dengan tangan kanan memegang susu agung yang akan dipukul itu.

Cara yang demikian itu adalah untuk menghilangkan dengung agung yang berkepanjangan. Jadi setelah agung tersebut dipukul, maka tangan sebelahnya segera memegang susu agung tersebut. Demikian seterusnya sampai lagu yang dibawakan itu selesai.

Diagram cara memainkan agung ini adalah merupakan batas metrom suatu lagu. Sedangkan penutup lagu biasanya dipukul Agung Basar (besar). Tetapi sering pula agung besar ini dipukul dalam irama-irama tertentu, umpama dalam perubahan naik turunya lagu.

Demikian tentang alat musik agung dari Kalimantan Selatan ini, semoga bermanfaat. terimakasih.
 

CARA DAN TEKNIK MEMAINKAN ALAT MUSIK ANGKLUNG

Alat muzik angklung indonesia
Memainkan Angklung
Indoborneonatural---Alat musik angklung yang menggunakan bahan utamanya dari bambu adalah alat musik tradisional asli dari Indonesia, memainkan alat musik angklung secara umum terbagi menjadi dua yaitu bagaimana cara memegang dan menggetarkan angklung tersebut. Berikut adalah teknik memegang dan menggetarkan angklung dengan benar.

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Jenis-jenis teknik dasar dalam bermain angklung meliputi :
        1. Teknik Getaran panjang
        2. Teknik Staccato
        3. Teknik Tengkep

Angklung Melodi

Angklung melodi memiliki dua bumbung nada. Bumbung nada depan (kecil) dan bumbung nada belakang (besar). Bumbung nada depan bunyinya satu oktaf lebih tinggi daripada bunyi nada bumbung belakang. Angklung melodi yang lengkap akan mencakup wilayah suara nada empat oktaf, dan nada bumbung belakang angklung besar (e) sampai dengan bunyi nada bumbung depan angklung penutup (terkecil - c’). Luas nada angklung melodi maksimal nada oktaf. Apabila dilengkapi dengan nada sisipan (kromatis), jumlah semuanya menjadi 37 buah angklung dari nada terbawah c sampai
dengan tertinggi e.

Angklung-angklung melodi perlu diberi nomor urut 1–37 dan hurufhuruf yang berpedoman satu huruf untuk satu warna nada. Hal ini dilakukan agar tidak membingungkan dalam memilih dan menyebut nada angklung.
Berikut ini nomor urut dan nama nada angklung melodi.

Cara Memainkan Angklung Melodi

Sebelum memainkan angklung, harus diperhatikan terlebih dahulu kondisi dan kelengkapan angklung-angklung. Sikap dan cara membunyikan angklung melodi adalah sebagai berikut:

1) Sikap Umum
Agar dapat memainkan angklung dengan baik, ikuti petunjuk berikut.
a) Tangan kiri memegang ujung tiang depan.
b) Angklung menghadap ke arah kiri pemain.
c) Garis antara siku dengan pergelangan tangan kiri sejajar dengan garis permukaan tanah.
d) Dipandang dari samping, angklung harus tegak lurus rata dengan tegak badan pemain.
e) Usahakan posisi angklung berada tepat di depan pinggul kanan.
f) Telunjuk bersama ibu jari tangan kanan memegang pangkal bawah tiang belakang angklung, sedangkan jari tengah masuk ke dalam lubang potongan sepatu angklung, bagian belakang, mengontrol tinggi rendah posisi angklung, dan bersama dengan telunjuk dan ibu jari mengatur getaran angklung yang berpusat pada pergelangan tangan kanan.
g) Bunyi angklung tergantung bagaimana memajukan batang angklung.

2) Sikap Khusus
Dalam bermain angklung, suara dapat dihasilkan dengan tekniktekniknmemainkannya. Adapun teknik-teknik memainkannya adalah sebagai berikut:

a) Bunyi Panjang
Untuk menghasilkan nada panjang dapat dilakukan dengan cara angklung tegak lurus dengan lantai dilihat dari segala arah. Gerakan angklung bersumbu pada pergelangan tangan kiri yang tidak bergerak.

b) Bunyi Pendek
Untuk menghasilkan bunyi pendek, angklung tegak dan kendalikan dengan tangan kanan. Gerakannya seperti menarik batang tongkat pancing (Jawa: sendhal pancing), tanpa memiringkan angklung ke kanan maupun ke kiri.

c) Bunyi Sangat Pendek
Untuk menghasilkan bunyi sangat pendek atau marcato dilakukan dengan caranya angklung condong ke kiri dengan menarik pegangan tangan kanan ke samping. Goyangkan bagian pangkal angklung dengan cara sendhal pancing.

d) Bunyi Cacah
Untuk menghasilkan bunyi cacah, caranya adalah angklung dipegang dengan posisi miring ke depan menghadap bawah, dipegang erat pada tangan kiri di kedua tiang tengah dan belakang. Adapun telapak tangan kanan membentur pangkal belakang sepatu angklung. 

Demikian artikel tentang cara dan teknik memainkan alat musik angklung aslil dari Indonesia ini, semoga bermanfaat, terimakasih.

DAFTAR NAMA-NAMA HOTEL DI BANJARMASIN

Indoborneonatural---. Sangat perlu mengunjungi Banjarmasin yang merupakan tempat kunjungan wisata sungai yang sangat menarik. Dengan wisata sungai dan pasar terapungnya. Disamping kuliner dan cendramatanya, juga sangat dekat wisata permata di kota Intan Martapura. Berikut ini adalah nama-nama Hotel di Kota Banjarmasin yang dapat menjadi alternatif untuk menginap dan beristirahat sambil menikmati wisata kota Banjarmasin :

Mercure Banjarmasin Hotel – Bintang 4
Lokasi: Jl Ahmad Yani Km 2 No 98, Pusat Kota Banjarmasin 70232
Jumlah kamar 180 Wifi gratis

Golden Tulip Galaxy Hotel Banjarmasin – Bintang 4
Lokasi:Jln Ahmad Yani Km 2.5, No 138, Pusat Kota Banjarmasin 70234
Jumlah kamar 138 Wifi gratis

Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin
Lokasi:Jalan Pangeran Antasari No.86A, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70241
swiss-belhotel.com

G’Sign Hotel Banjarmasin – Bintang 4
Lokasi: Jl. A. Yani KM. 4,5 No. 448, Pusat Kota Banjarmasin 70249
Jumlah kamar 137 Wifi gratis
Victoria Hotel
Jl. Lambung Mangkurat No. 48, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70231 (0511) 3360111 victoriabanjarmasin.com

Novotel Banjarmasin Airport
Lokasi:Jl Ahmad Yani Km 27 No 1A Landasan Ulin, Banjarbaru City, South Kalimantan 70724
(0511) 6730020 accorhotels.com

Aston Banua
Lokasi:Jalan Jend. A. Yani Km 11,8, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70652
(0511) 6745555 aston-international.com

Aria Barito Hotel
Lokasi:Jl. Haryono MT. No. 16, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70111
(0511) 3365001 ariahtl.com

TreePark Hotel Banjarmasin
Lokasi: Jln. Ahmad Yani KM 6.2, Pandan Sari, Banjarmasin Sel., Kalimantan Selatan 70248
(0511) 6742888 treeparkhotel.com

Favehotel Ahmad Yani Banjarmasin
Km.2 No.35, Jl. Ahmad Yani, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233
(0511) 6742777 favehotels.com

Hotel Bumi Banjar
Jl. Ahmad Yani, Tatah Belayung Baru, Kertak Hanyar, Banjar, Kalimantan Selatan 70654
(0511) 4240003

Royal Jelita Hotel
Jl. Ahmad Yani No.448, Pemurus Baru, Kec. Banjarmasin Tim., Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70236

Istana Barito Hotel
Jl. Pasar Baru No.236, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70234 (0511) 4365469

Hotel Kuripan
Jalan A Yani No.40, Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233 (0511) 3268529

Amaris Banjar Hotel
Jl. Ahmad Yani KM 7, Banjar, South Kalimantan 70654
amarishotel.com (0511) 4282818

A Hotel Banjarmasin
Jl. Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70114  (0511) 4366818

Jelita Hotel
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.44-46, Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan 70233
jelitahotel.co.id (0511) 3251122

EFA HOTEL
Jl. Ahmad Yani Km. 6, 5, Kalimantan Selatan 70249
efahotel.com (0511) 3252118

Mira Hotel
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.44-46, Banjarmasin Tengah, Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233
jelitahotel.co.id (0511) 3251122

Hotel Banjarmasin International (HBI)
Jalan Jenderal Ahmad Yani Km. 4,5, Kalimantan Selatan 70234
hbi-boec.com(0511) 3251008

Hotel Kertak Baru
Jl. Letjend. MT Haryono No. 13, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70234
(0511) 3354638

Kanca Hotel
Jalan H. Zafri Zam Zam No.12, Kalimantan Selatan 70116
kancahotel.com  (0511) 4413208

Hotel Andalas
Jl. Perintis Kemerdekaan No.60/10, RT.22, Ps. Lama, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70115
(0511) 4368608

Summer Bed and Breakfast Hotel – Bintang 3
Lokasi: Jl. Veteran No. 3, Pusat Kota Banjarmasin 70235
Jumlah kamar : 53 Wifi gratis

NASA Hotel – Bintang 3
Lokasi: Jalan Djok Mentaya No. 8, Pusat Kota Banjarmasin 71011
Jumlah kamar 96 Wifi gratis

Hotel Roditha – Bintang 3
Bealamat di Jl. Pangeran Antasari Pasar Pagi No 41, Banjarmasin 70241
Jumlah kamar 75

Hotel Regen
Jalan Kolonel Sugiono No. 34-38, Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan 70234
(0511) 3250456

Hotel Damai Indah
Alamat: Jl.A.Yani Km.5, Pelaihari, Banjarmasin 70815
Jumlah kamar : 15. mulai dari IDR 133.058,-
Fasilitas: area merokok, layanan laundry, taman, tempat parkir mobil

CitraRaya Hotel
Jl. Re Martadinata No. 6, Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar 57. Harga mulai dari IDR 133.471,-
Fasilitas: antar-jemput bandara, area merokok, coffee shop, kotak penyimpanan. Wi-Fi gratis di semua kama, tempat parkir

Mira Inn
Jalan Mt Haryono No. 2A, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 165.289
Fasilitas: antar-jemput bandara, koran, layanan laundry, persewaan mobil, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Mira Hotel
Jalan Mt Haryono No. 49, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 165.289
Fasilitas, antar-jemput bandara, laundry, penyimpanan bagasi, persewaan mobil, restoran, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Gondola Inn
Jalan Lambung Mangkurat No. 19 B, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 206.612
Fasilitas: antar-jemput bandara, koran, layanan laundry, persewaan mobil, resepsionis 24 jam, taman, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Hotel Kartika
Jl. Pulau Laut 1, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar : 27.mulai dari IDR 208.450
Fasilitas: taman, area merokok , Wi-fi di tempat umum, tempat parkir mobil

Hotel Midoo
Jl. AES Nasution No.8, Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar 20. mulai dari IDR 224.793
Fasilitas: layanan kamar 24 jam, tur, taman, Wi-fi di tempat umum, tempat parkir mobil

Save Hotel
Jl. Pramuka km. 6, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70238
Jumlah kamar 50. mulai dari IDR 235.537
Fasilitas: antar-jemput bandara, area merokok coffee shop, concierge, fasilitas pertemuan, koran, layanan kamar 24 jam, laundry, pertokoaN, tur, pijat spa, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir mobil, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Hannie House
Komplek Bun Yamin Permai II Ray 3 No 1, Banjarmasin
Jumlah kamar 16 mulai dari IDR 247.107
Fasilitas: area merokok, layanan kamar, taman, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir mobil, Bahasa Indonesia Dan Bahasa Inggris.
Demikian semoga bermanfaat untuk anda yang lagi cari-cari hotel untuk wisata anda. Terimakasih

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ANGKLUNG

Angklung
Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.

Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Anak-anak Memainkan Angklung
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain : Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah : indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.


Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).


Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Angklung Buncis
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya : Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas : Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.



Baca juga cara memainkan angklung klik di sini !!

 
Sumber: http://kolom-lyrics.blogspot.com/2011/11/ 

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.