DAFTAR NAMA-NAMA HOTEL DI BANJARMASIN

Indoborneonatural---. Sangat perlu mengunjungi Banjarmasin yang merupakan tempat kunjungan wisata sungai yang sangat menarik. Dengan wisata sungai dan pasar terapungnya. Disamping kuliner dan cendramatanya, juga sangat dekat wisata permata di kota Intan Martapura. Berikut ini adalah nama-nama Hotel di Kota Banjarmasin yang dapat menjadi alternatif untuk menginap dan beristirahat sambil menikmati wisata kota Banjarmasin :

Mercure Banjarmasin Hotel – Bintang 4
Lokasi: Jl Ahmad Yani Km 2 No 98, Pusat Kota Banjarmasin 70232
Jumlah kamar 180 Wifi gratis

Golden Tulip Galaxy Hotel Banjarmasin – Bintang 4
Lokasi:Jln Ahmad Yani Km 2.5, No 138, Pusat Kota Banjarmasin 70234
Jumlah kamar 138 Wifi gratis

Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin
Lokasi:Jalan Pangeran Antasari No.86A, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70241
swiss-belhotel.com

G’Sign Hotel Banjarmasin – Bintang 4
Lokasi: Jl. A. Yani KM. 4,5 No. 448, Pusat Kota Banjarmasin 70249
Jumlah kamar 137 Wifi gratis
Victoria Hotel
Jl. Lambung Mangkurat No. 48, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70231 (0511) 3360111 victoriabanjarmasin.com

Novotel Banjarmasin Airport
Lokasi:Jl Ahmad Yani Km 27 No 1A Landasan Ulin, Banjarbaru City, South Kalimantan 70724
(0511) 6730020 accorhotels.com

Aston Banua
Lokasi:Jalan Jend. A. Yani Km 11,8, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70652
(0511) 6745555 aston-international.com

Aria Barito Hotel
Lokasi:Jl. Haryono MT. No. 16, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70111
(0511) 3365001 ariahtl.com

TreePark Hotel Banjarmasin
Lokasi: Jln. Ahmad Yani KM 6.2, Pandan Sari, Banjarmasin Sel., Kalimantan Selatan 70248
(0511) 6742888 treeparkhotel.com

Favehotel Ahmad Yani Banjarmasin
Km.2 No.35, Jl. Ahmad Yani, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233
(0511) 6742777 favehotels.com

Hotel Bumi Banjar
Jl. Ahmad Yani, Tatah Belayung Baru, Kertak Hanyar, Banjar, Kalimantan Selatan 70654
(0511) 4240003

Royal Jelita Hotel
Jl. Ahmad Yani No.448, Pemurus Baru, Kec. Banjarmasin Tim., Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70236

Istana Barito Hotel
Jl. Pasar Baru No.236, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70234 (0511) 4365469

Hotel Kuripan
Jalan A Yani No.40, Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233 (0511) 3268529

Amaris Banjar Hotel
Jl. Ahmad Yani KM 7, Banjar, South Kalimantan 70654
amarishotel.com (0511) 4282818

A Hotel Banjarmasin
Jl. Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70114  (0511) 4366818

Jelita Hotel
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.44-46, Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan 70233
jelitahotel.co.id (0511) 3251122

EFA HOTEL
Jl. Ahmad Yani Km. 6, 5, Kalimantan Selatan 70249
efahotel.com (0511) 3252118

Mira Hotel
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.44-46, Banjarmasin Tengah, Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70233
jelitahotel.co.id (0511) 3251122

Hotel Banjarmasin International (HBI)
Jalan Jenderal Ahmad Yani Km. 4,5, Kalimantan Selatan 70234
hbi-boec.com(0511) 3251008

Hotel Kertak Baru
Jl. Letjend. MT Haryono No. 13, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70234
(0511) 3354638

Kanca Hotel
Jalan H. Zafri Zam Zam No.12, Kalimantan Selatan 70116
kancahotel.com  (0511) 4413208

Hotel Andalas
Jl. Perintis Kemerdekaan No.60/10, RT.22, Ps. Lama, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70115
(0511) 4368608

Summer Bed and Breakfast Hotel – Bintang 3
Lokasi: Jl. Veteran No. 3, Pusat Kota Banjarmasin 70235
Jumlah kamar : 53 Wifi gratis

NASA Hotel – Bintang 3
Lokasi: Jalan Djok Mentaya No. 8, Pusat Kota Banjarmasin 71011
Jumlah kamar 96 Wifi gratis

Hotel Roditha – Bintang 3
Bealamat di Jl. Pangeran Antasari Pasar Pagi No 41, Banjarmasin 70241
Jumlah kamar 75

Hotel Regen
Jalan Kolonel Sugiono No. 34-38, Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan 70234
(0511) 3250456

Hotel Damai Indah
Alamat: Jl.A.Yani Km.5, Pelaihari, Banjarmasin 70815
Jumlah kamar : 15. mulai dari IDR 133.058,-
Fasilitas: area merokok, layanan laundry, taman, tempat parkir mobil

CitraRaya Hotel
Jl. Re Martadinata No. 6, Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar 57. Harga mulai dari IDR 133.471,-
Fasilitas: antar-jemput bandara, area merokok, coffee shop, kotak penyimpanan. Wi-Fi gratis di semua kama, tempat parkir

Mira Inn
Jalan Mt Haryono No. 2A, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 165.289
Fasilitas: antar-jemput bandara, koran, layanan laundry, persewaan mobil, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Mira Hotel
Jalan Mt Haryono No. 49, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 165.289
Fasilitas, antar-jemput bandara, laundry, penyimpanan bagasi, persewaan mobil, restoran, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Gondola Inn
Jalan Lambung Mangkurat No. 19 B, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70111
mulai dari IDR 206.612
Fasilitas: antar-jemput bandara, koran, layanan laundry, persewaan mobil, resepsionis 24 jam, taman, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir

Hotel Kartika
Jl. Pulau Laut 1, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar : 27.mulai dari IDR 208.450
Fasilitas: taman, area merokok , Wi-fi di tempat umum, tempat parkir mobil

Hotel Midoo
Jl. AES Nasution No.8, Banjarmasin, Banjarmasin
Jumlah kamar 20. mulai dari IDR 224.793
Fasilitas: layanan kamar 24 jam, tur, taman, Wi-fi di tempat umum, tempat parkir mobil

Save Hotel
Jl. Pramuka km. 6, Pusat Kota Banjarmasin, Banjarmasin 70238
Jumlah kamar 50. mulai dari IDR 235.537
Fasilitas: antar-jemput bandara, area merokok coffee shop, concierge, fasilitas pertemuan, koran, layanan kamar 24 jam, laundry, pertokoaN, tur, pijat spa, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir mobil, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Hannie House
Komplek Bun Yamin Permai II Ray 3 No 1, Banjarmasin
Jumlah kamar 16 mulai dari IDR 247.107
Fasilitas: area merokok, layanan kamar, taman, Wi-Fi gratis di semua kamar, tempat parkir mobil, Bahasa Indonesia Dan Bahasa Inggris.
Demikian semoga bermanfaat untuk anda yang lagi cari-cari hotel untuk wisata anda. Terimakasih

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ANGKLUNG

Angklung
Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.

Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Anak-anak Memainkan Angklung
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain : Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah : indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.
Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).
Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Angklung Buncis
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya : Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas : Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

Sumber: http://kolom-lyrics.blogspot.com/2011/11/ 

KISAH BAHASA BANJAR PALUI: "NASI ITIK"

Nasi Itik Gambut Banjar
Urang sakampungan di wadah Palui bagana tu tahu amun Tulamak tu katuju bamamakan. Liwar katujunya bamamakan tu buha Palui sapakawalan kada lagi manyambatnya bamamakan, tagal bababantas. Napa mun takana lalaparannya Tulamak bilang kada baingat rahatan makan.

Wajar haja pulang amun ada urang bakarasmin, baik itu urang basalamatan atawa urang bakawinan pasti ha Tulamak kada katinggalan. Cari haja di buncu mana kah, ada tu Tulamak lagi bamamakan.


Nang inya kada kawa tulak tu kacuali yasinan buhan acil-acil di kampung.
“Kacuali ikam hakun kudandadani Mak ai. Aku pakaiakan kakamban wan kugincui sadikit. Maraha pas rahat urang basurung kubukan haja ikam bapara. Imbah makan langsung bulik, jadi urang kadada nang tahunya,” ujar Palui mahuhulut Tulamak.


Tulamak kamarian tu bilang kacar banar handak makan rahat malihat acil-acil di kampung tulak ka yasinan. Maka yasinannya di rumah haji Aman. Urang tahuan mun sidin tu nang basalamatan pasti makanannya nyaman-nyaman.


“Buhan ikam kada usah mamikirakan aku nang macam-macam. Aku sudah bapikir saurangan kaya apa caranya supaya kawa makan makanan di yasinan itu. Amun aku dapat saikung kadada nang kubarinya buhan ikam ni. Kukacari tu pang di pus ni,” ujar Tulamak baagak.
“Kaya apa caranya tadih?” ujar Garbus batakun.

“Tanang haja. Aku sudah bapasan wan umanya supaya mambungkusakan gasan aku. Hahaha, kaya apa? pintar kalu?” ujar Tulamak pina koyo banar. Buhan Palui tanganga mandangarakan.
Sapanjang waktu mahadang urang bulikan pada yasinan tu Tulamak bilang bacaca banar. Rasa inya tu pang pamanangnya. Palui, Garbus, wan Tuhirang kada sing bunyian dihapaki Tulamak tarus.


Kada lawas imbah itu, acil-acil bulikan pada yasinan. Jinguk-jinguk si Tulamak mancari bininya kada sing cungulan. Imbah habis urang bulikan samunyaan, matan jauh hanyar talihat bini Tulamak balimbai tangan mambawa bungkusan warna hirang. Pina ganal bungkusannya.
“Apa itu umanya. Bawa sini nah,” ujar Tulamak langsung manyambang bininya di muka pus.
“Nasi itik abahnya ai. Kawa ai aku mambawa saurangan,” ujar bini Tulamak. Dikiranya bininya Tulamak handak mambawa akan.


Nang ngaran sudah taniat handak baagak, Tulamak hancap marabuti bungkusan palastik tu tumat tangan bininya. “Ujarku gasan di rumah haja, kada usah di sini,” ujar bini Tulamak. Nang ditagur kada tahu-tahu, tatap mangarasi ampun inya jua.


Imbah maambil, hancap Tulamak duduk, imbah itu langsung mambuka bungkusan tu. “Aku kada babarian lah,” ujar Tulamak mangacari kakawalannya. Palui sapakawalan ranai malihatakan Tulamak. Bini Tulamak badirian jua. Sambil bakacak pinggang malihati kalakuan lakinya.

Rahat palastik tabuka, Tulamak timbul kada jadi makan. Bangangaan ha muntungnya. “Napa ini umanya. Nasi sisa kah. Ujar pang nasi itik,” Tulamak bakuciak wan bininya.

“Ujar ku jua gasan di rumah. Ujarku tadi nasi itik, artinya nasi sisa gasan itik di rumah. Aku baastilah maminta tadi. Lain nasi itik nang di Gambut tu pang. Iya tu dasar handak bamamakan haja gawian!” ujar bininya bakuciak.

Palui wan kakawalannya nang asalnya ranai, lucut tatawaan. “Bawa bulik ka rumah gin Mak. Makanan baimbay wan itik di kandang sana,” ujar Palui mahuhulut. Birai muha Tulamak.


* * * 

(* Kisah Palui adalah kisah jenaka (lucu) dari daerah Banjar (Banjarmasin) Kalimantan selatan.

Paribasa Banjar: “KAYA TUPAI MANGGUGUT NANGKA”

Urang Banjar sama haja kaya urang banua lain: katuju bagaya, ba’ajakan, balalucu, mahalabiu. “Kaya tupai manggugut nangka”, paribasa Banjar gasan pasangan laki-bini nang kada sapala: awak nang laki (tupainya) halus, nang bini (nangkanya) ganal. 

Takisah, Utuh Tipang wan bininya Aluh Kaciput. Bulan Syawal, di banua Banjar, Kalimantan Selatan, musim urang bakawinan, bapangantinan. Imbah saruan di hilir kampung, rahat handak bulik Aluh Kaciput wan Utuh Tipang disambang urang.

“Ai, Aluh Kaciput! Lawasnya kita kada badapat!” ujar binian nang manyambang, nang patuknya mahabang sinang; baju bagirap-girap; giwang, kangkalung wan galangnya ganal -- alahan pada rantai jukung. 

“Ayuha pian bulik badahulu,” ujar Aluh Kaciput lawan Utuh Tipang wan anaknya. “Bawa kakanakan. Ulun badudi. Suruh Nining Antin mamutiki tapasan. Hari muru!”

“Maaplah, ulun mainjam bini pian satumat, handak bakisahan!” ujar binian nang habang patuk tu lawan Utuh Tipang. “Matan kakanakan ulun rakat lawan bini pian, sarantang saruntung, samuak saliur, alahan pada dingsanak!”

Amun bibinian batamu kawannya, sama kaya badapat gampiran: paraya dihadangi. Utuh Tipang mandusur bulik ka rumah lawan anaknya, Aluh Kaciput dihirit kawannya nang habang patuk tu ka warung, di subarang rumah nang bakawinan.

“Pinda mambuang parangai ikam nih, Aluh Kidas ai!” ujar Aluh Kaciput garigitan. “Napa garang nang handak dipandirakan? Jaka ka rumah!”

“Kada! Satumat haja!” ujar Aluh Kidas. “Lakiku mahadangi di mutur! Kami handak langsung labuh ka Banjar! Aku handak batakun banar ai. Di mana kawan kita Aluh Gabau taulih laki, maka inya wan lakinya kaya tupai manggugut nangka?” (ysas) 


(“Pandiran Banua”, TVRI Kalimantan Selatan, Banjarmasin. Siaran Saptu, 23.07.2016, Pukul 17.00 WITA.) 

Oleh  : Y.S. Agus Suseno, Banjamasin

JENIS-JENIS SENI TARI TRADISIONAL SUKU DAYAK KALIMANTAN

Indoborneonatural---Salah satu kekayaan tradisi dari Borneo - Kalimantan yang di miliki Suku Dayak adalah seni tari. Disamping seni yang lainnya, seperti seni ukir dan seni lukis dayak yang terkenal. Ada beberapa seni tari dayak yang tekenal yang memjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri, diantaranya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan upacara adat suku dayak. Berikut beberapa jenis tarian tradisional suku dayak kalimantan.

1. Tari Gantar

Tari Gantar adalah salah satu tarian tradisional kalimantan yang menggambarkan gerakan orang sedang menanam padi.

Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

Untuk mengetahui keindahan tarian gantar ini, silahkan simak video berikut ini :


2. Tari Kancet Papatai / Tari Perang

Tarian Kancet Papatai / Tari Perang menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.

Dalam tari Kancet Papatai, penari mempergunakan pakaian tradisional suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.



3. Tari Kancet Ledo / Tari Gong

Tari Kancet Ledo atau disebut juga Tari Gong merupakan salah satu ekspresi seni masyarakat Dayak yang mendiami Kalimantan Timur.

Tari Gong adalah tari yang mengekspresikan tentang kelembutan seorang wanita dengan menari di atas Gong dengan gerakan yang lemah lembut dan penuh keseimbangan. Tari ini mengungkapkan kecantikan, kepandaian dan lemah lembut gerakan tari. Sesuai dengan nama tarinya, tari Gong ditarikan di atas sebuah Gong, diiringi dengan alat musik Sapeq ( alat musik yang dipetik seperti kecapi).

Penari Gong menggunakan busana berupa baju manik dan Taah ( pakaian khas wanita yang terdiri dari kain beludru yang dihiasi manik-manik, yang dipakai dengan cara dililitkan pada pinggang, yang masing-masing ujung tali dililitkan dan berhenti di pusar ), serta perlengkapan lainnya yang digunakan Lavung ( Topi yang dibuat dari rotan dan terdapat corak-corak sesuai dengan corak baju dan Taah), dan kalung yang terbuat dari manik-manik yang berwarna dan gigi atau taring Macan, dan bulu burung Enggang yang dikenakan di kedua belah tangan penari.

Kesederhanaan tari Gong terlihat pada gerak dan musik. Gerak pada tari Gong hanya beberapa segmen tubuh saja yang bergerak, serta bentuk gerakannya diulang- ulang pada saat penari menuju Gong, saat berada di atas Gong dan turun dari Gong. Tari Gong memiliki gerak kaki yang sederhana dalam melangkah dan ayunan tubuh dan tangan yang lemah lembut. Kostum yang digunakan sangat mewah karena terbuat dari manik-manik yang dirangkai menjadi motif – motif binatang seperti motif Kalung Aso (Naga Anjing), pola permainan musik yang mendukung tarian ini datar tidak terjadi pergantian iringan dari awal hingga akhir tari.

Dilihat dari gerak dan tatapan mata yang dimiliki lembut dan lincah karena disamakan dengan sifat seekor burung, di mana burung mempunyai sifat yang cepat, lembut dan lincah. Bentuk gerak dalam tari Gong ini tergolong sederhana, gerak yang merupakan ekspresi yang menirukan gerak hewan tiruannya seperti burung Enggang. Penari melakukan gerakan-gerakan yang sederhana dan mudah. Dalam gerak yang melambangkan hubungan manusian dengan burung Enggang terlihat dalam gemulai gerak tangan, tubuh dan kaki. Gerak pelan pada tangan mengibaratkan kepak sayap burung Enggang.


4. Tari Kancet Lasan

Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.


5.   Tari Leleng

Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.


6.   Tari Hudoq

HUDOQ  adalah tarian topeng yang bagi suku / etnis Bahau di percaya sebagai tarian kedatangan para dewa utusan Sang Pencipta ke dalam dunia , untuk menjaga  dan melindungi kehidupan dan tanaman padi yang baru di tanam. Karena kuatir manusia bisa ketulahan / sakit / mati, bila melihat / memandang langsung wajah para dewa, maka “ NALING LEDAANG “ pemimpin para dewa,  mengajak teman –temannya membuat topeng dari pohon kayu Jelutung / Jabon /Kitaaq, dan membuat pakaian dari daun pisang “ uraan “ Untuk menutupi seluruh tubuh mereka .
Selain itu ada juga masyarakat yang percaya, pada saat di laksanakan Upacara Adat Hudoq, yang sakit  akan di sembuhkan bila terkena kibasan kostum daun pisang tersebut, pada saat sang Penari  Hudoq menari . Berita kedatangan Hudoq ini sangat tersohor sehingga bagi siapa saja yang mendengar kabar akan diadakan Upacara adat hudoq , pasti akan berusaha meluangkan waktu ,dengan aneka macam tujuan pribadi, di samping rindu ingin menari bersama karena upacara adat ini hanya di laksanakan setahun sekali.

Ada juga di kepercayaan yang kuat dalam masyarakat adat Etnis Bahau bahwa saat inilah berkat dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa lebih banyak dan berlimpah datang secara nyata, dalam suasana yang meriah dan akrab.

Upacara adat Hudoq di laksanakan setelah usai menanam padi di ladang terakhir penduduk yang melaksanakan usaha ladang pada satu tahun berjalan. Untuk di wilayah pedalaman Mahakam Ulu etnis suku Bahau, melaksanakan upacara adat ini pada bulan Oktober Tahun berjalan . Untuk wilayah hilir Mahakam dan di kota Samainda, masyarakat etnis Bahau melaksanakan upacara adat Hudoq pada bulan November dalam tahun berjalan . Di samping Upacara adat ini di percaya mendatangkan berkat dan rahmat langsung dari sang pencipta, juga dapat di percaya membuang segala kesialan hidup pada diri seseorang .

Upacara adat hudoq dapat di laksanakan di sebuah halaman yang cukup luas, dan pelengkapan adat ini di letakan mengarah matahari terbit .
Para pelaksana adat terdiri dari pemimpin adat / tokoh adat / kepala adat dan di bantu oleh pelaksana adat wanita dengan syarat telah melaksanakan adat lengkap seperti : Nama diri setelah melewati prosesi upacara adat.

Upacara adat hudoq terdiri dari beberapa tahapan yaitu :

Tahapan pembukaan /Hudoq Aput / Putpoot, Sehari sebelum di laksanakan upacara adat ini semua masyarakat yang melaksanakan usaha ladang pergi keladang masing – masing mengambil sedikit tanah / daun padi yang mati / layu untuk di lakukan upacara adat tolak bala / adat pemurnian yang disebut dengan  “ LEMIVAA “ keesokan hari nya di laksanakan hudoq pembukaan.

Tahap Hudoq Kawit . Sebelum di laksanakan dalam satu hari semua masyarakat adat baik yang melaksanakan usaha ladang maupun yang tidak atau masyarakat umum , berkumpul di rumah pimpinan adat untuk melaksanakan adat pemurnian umum yang di sebut dengan “ LEMIVAA TASAAM “ Kemudian keesok harinya dapat di laksanakan ke upacara Hudoq Kawit.

Tahap penutup / Hudoq Pakoq.

Tarian hudoq yang asesorisnya terbuat dari macam – macam tanaman bunga atau daun pakis, pada puncak acara ditutup dengan membuang  dan mencuci wajah dari arang dengan tujuan kembali pada kehidupan .
Bahan –bahan yang disampaikan pada pelaksanaan Upacara adat ini terdiri dari :
1. Ayam kampong
2. Piring putih
3. Beras putih
4. Gelang manic
5. Kain putih
6. Telur ayam kampong.

7. Tari Hudoq Kita’
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.


8. Tari Serumpai
Tarian suku Dayak Benuaq ini dilakukan untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang yang digigit anjing gila. Disebut tarian Serumpai karena tarian diiringi alat musik Serumpai (sejenis seruling bambu).a kita memanfaatkan dan mengelolanya.

9. Tari Belian Bawo
Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya. Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.


10. Tari Kuyang
Sebuah tarian Belian dari suku Dayak Benuaq untuk mengusir hantu-hantu yang menjaga pohon-pohon yang besar dan tinggi agar tidak mengganggu manusia atau orang yang menebang pohon tersebut.

11. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apo Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

12. Tari Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apo Kayan yang bernama Nyik Selung, sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku Dayak Kenyah.

13. Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau adalah tarian adat dalam hal kematian dari suku Dayak Tunjung dan Benuaq. Tarian ini mempergunakan alat-alat penumbuk padi yang dibentur-benturkan secara teratur dalam posisi mendatar sehingga menimbulkan irama tertentu.

14. Tari Baraga’ Bagantar
Awalnya Baraga’ Bagantar adalah upacara belian untuk merawat bayi dengan memohon bantuan dari Nayun Gantar. Sekarang upacara ini sudah digubah menjadi sebuah tarian oleh suku Dayak Benuaq.

Sumber: http://www.tradisikita.my.id/

INILAH ADAT BUDAYA BALI YANG MULAI RAPUH DAN PUNAH

Indoborneonatural--Siapa yang tidak kenal Bali, nama Bali tidak hanya terkenal di Nusantara tetapi telah mendunia, menjadi tempat kunjungan wisata pavorit bagi wisatawan manca negara. Bali terkenal dengan Keindahan Pesona wisatanya dengan alam yang sangat indah serta seni budaya yang kaya dengan nilai-nilai artistik dan spritual yang tinggi. Tetapi dari sekian banyak kebudayaan yang ada di Bali ternyata ada beberapa budaya Bali yang mulai punah, dan hampir tidak dikenal generasi selanjutnya yang cenderung modern berkepribadian masyarakat maju. Berikut ini beberapa Adat atau budaya Bali yang mulai hilang dan punah.

A. Contoh budaya Bali yang sudah Hilang
 
1. Arsitektur Rumah Bali yang Hilang

Dari jaman dahulu para undagi Bali sangat ketat dan taat mengikuti aturan atau pakem dalam mendirikan bangunan, sehingga aturan pembangunan di Bali seperti dikenal dalam rontal Asta Kosala Kosali atau Asta Petali. Undagi jaman dahulu tidak berani keluar dari konsep yang telah digariskan oleh para leluhurnya, sehingga dikenal adanya konsep tata ruang Tri Loka atau Tri Angga, yakni membagi areal hunian menjadi tiga yaitu nista, madya dan utama atau bhur,bwah dan swah yang akhirnya menjadi konsep Tri Hita Karana dan akhirnya melahirkan konsep orientasi kosmologi yang disebut Nawa Sanga atau Sanga Mandala, hingga konsep keseimbangan kosmologi yang disebut Manik Ring Cucupu.

Pembangunan selalu selaras dengan alam sekelilingnya dengan memperhatikan faktor lingkungan. Di jaman dahulu orang menggunakan sikut, sehingga bangunan yang akan dibuat sesuai dengan proporsi pemiliknya, menjadi nyaman dan menyenangkan, karena selaluruang terbuka yang di sebut natah dan adanya pengaturan waktu dalam penyediaan bahan bangunan, sehingga keseimbangan dan kelestarian alam tetap terjaga.

Mungkin suatu saat nanti, semua ajaran adi luhung leluhur tentang arsitektur akan menjadi suatu sejarah, karena sudah tidak ada yang mengikuti, sudah kuno atau sudah ketinggalan jaman. Semua bangunan pada jaman ini dibuat secara praktis, ekonomis dan kalau seandainya bisa, mengerjakan bangunan ingin dapat diselesaikan dalam waktu semalam. Pengerjaan bangunan tanpa memandang lagi pakem yang sudah pernah ada, semua dihantam rata. Tidak perlu mencari hari baik untuk memulai pekerjaan, apalagi untuk mencari bahan bangunan. Arsitektur bangunan sudah tidak mencerminkan Bali, terutama di pusat kota. Kalaupun harus bercirikan Bali, akan terlihat beberapa tempelan hiasan Bali dibeberapa sudut bangunan yang berkesan terlalu dipaksakan. Kalaupun Bali masih peduli dan ingin untuk melestarikan budaya dan arsitekturnya, tentulah tidak terlambat. Masih dapat diselamatkan, terutama jika ada niat dan tekad yang kuat dari orang Bali itu sendiri dan juga Pemerintah Daerah sebagai badan yang memiliki wewenang kontrol dapat melakukan pekerjaannya dengan konsekuen. Arsitektur Bali dan para undagi selayaknya juga menyediakan bentuk dan design rumah sederhana bercirikan Bali, menyediakan ragam gambar yang banyak, sehingga masyarakat dapat menirunya atau memperoleh ilham dan ide ketika mereka membangun.

Kalau mau jujur,masyarakat kebanyakan tidak mengerti tentang apa yang dimaksud dengan arsitektur Bali, apakah menyangkut bentuk atap, bentuk bangunan, hiasan ornamen atau bahan bangunan yang dipergunakan. Seandainya orang Bali sudah tidak berminat lagi untuk mempergunakan arsitektur Bali, maka Bali akan menjadi asing di tanahnya sendiri. Karena perkembangan jaman dan perkembangan manusia, bangunan bertingkat tinggi akan segera merambah Bali. Kalau bangunan tingkat tinggi sudah merupakan suatu keharusan, karena menyelamatkan lahan dan menyikapi harga tanah yang mahal, maka Bali tidak ada bedanya dengan kota besar lainnya dan akan berubah menjadi kota metropolitan. Memang akan sangat disayangkan, namun itulah kenyataannya. Arsitektur Bali yang tersisa mungkin hanya terdapat pada bangunan Pura yang tetap bertahan selaras dengan perkembangan agama Hindu di Bali.

2. Penggak” Orang Bali yang Hilang
Dahulu orang Bali dipedesaan mengenal istilah penggak, penggak merupakan sebuah tempat seperti Warung dan "posko" sekarang yang berada di pojokan Banjar. Penggak merupakan sebuah wadah informal yang biasa dipakai oleh masyarakat untuk berdiskusi dan melakukan kegiatan sebelum melaksanakan rapat di Banjar. Biasanya dari penggak ini muncul ide-ide baru yang akan dibicarakan pada rapat Banjar. Wadah seperti itu sudah beralih menjadi Posko partai politik yang memanfaatkan Penggak sebagai pencarian "Masa /pendukung". Penggak sekarang sudah hilang. hilang fungsi utama, dan hilang juga kreativitas didalamnya untuk memunculkan ide-ide baru.

B. Contoh budaya Bali yang sudah rapuh

(a) Eksistensi Desa Adat Di Bali Rapuh
Eksistensi dan implementasi desa pakraman atau desa adat di Bali kini terancam rapuh, ditandai banyaknya kasus atau konflik adat, seperti pertikaian kelompok warga antarbanjar atau dusun dalam satu desa maupun dengan desa lainnya."Banyaknya kasus adat seperti yang terjadi di Desa Pakudui, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan bukti rapuhnya eksistensi desa pakraman," kata Plt Bendesa Agung Desa Pakraman Dewa Gede Ngurah Suasta. Konflik memuncak ketika prosesi pengusungan jenazah seorang warga Banjar Pakudui Kangin, dihadang oleh warga Banjar Pakudui Kauh. Menurut Ngurah Suasta, keberadaan desa pakraman rapuh saat dasar desa adat itu, yakni ajaran agama Hindu, mulai banyak dilupakan oleh masyarakatnya. "Warga banyak yang mulai tidak patuh menjalankan ajaran yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

(b) Eksistensi Subak di Bali Rapuh
Subak sedang menghadapi bermacam tantangan, lebih-lebih dalam menyongsong era globalisasi yang jika tidak teratasi maka kelangsungan hidup subak bias terancam. Tantangan-tantangan tersebut antara lain:

1) Persaingan dalam pemasaran hasil-hasil pertanian yang semakin tajam.
Akan tiba saatnya bahwa Indonesia harus terbuka terhadap masuknya komoditi pertanian yang diproduksi di luar negari. Sektor pertanian pun mau tidak mau harus terbuka untuk investasi asing dan dituntut agar mampu bertahan pada kondisi persaingan bebas tanpa subsidi dari pemerintah. Malahan sekarang saja pasar-pasar swalayan di beberapa kota besar termasuk Denpasar sudah mulai kebanjiran produk-produk pertanian seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan daging yang dihasilkan petani negara asing yang dapat menggeser kedudukan produksi pertanian yang dihasilkan oleh petani-petani negeri kita sendiri. Untuk mampu bersaing dalam pasar ekonomi global maka mutu hasil –hasil pertanian kita perlu ditingkatkan. Ini berarti bahwa mutu sumberdaya manusia termasuk para petani produsen perlu terus ditingkatkan agar menjadi lebih profesional, efisien dan mampu menguasai serta memanfaatkan teknologi. Para petani anggota subak selama ini masih bertindak sendiri-sendiri secara individual dalam berusahatani. Padahal, mereka tergolong petani gurem dengan luas garapan yang sempit, permodalan yang terbatas dan posisi tawar yang sangat lemah. Mereka belum memanfaatkan kelembagaan subak sebagai wadah bersama untuk melakukan kegiatan usahatani yang lebih berorientasi agribisnis. Dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam maka seharusnya para petani bersatu melalui suatu wadah yang sudah ada yaitu subak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang lebih berorientasi agribisnis bukan sekedar menggunakan wadah subak itu hanya untuk tujuan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.

2) Menciutnya areal persawahan beririgasi akibat alih fungsi.
Salah satu tantangan yang dihadapi subak adalah menciutnya lahan sawah beririgasi sebagai akibat adanya alih fungsi untuk kegiatan non-pertanian. Di Bali dalam beberapa tahun belakangan ini areal persawahan yang telah beralih fungsi diduga mencapai 1000 ha per tahun. Penciutan areal sawah ini sungguh pesat, lebih-lebih di lokasi yang dekat kota karena dipicu oleh harga yang cenderung membubung tinggi. Nampaknya petani pemilik sawah di daerah sekeliling kota cenderung tergoda oleh tawaran harga tanah yang tinggi. Sebab, jika dibandingkan dengan mengusahakan sendiri untuk usahatani hasilnya sungguh tidak seimbang. Petani mungkin lebih memilih mendepositokan uang hasil penjualan tanahnya itu di bank dan tinggal menerima bunganya tiap bulan yang bisa jadi jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil usahataninya. Andaikata penyusutan areal persawahan di Bali berlanjut terus separti sekarang ini dikhawatirkan organisasi subak akan terancam punah. Jika subak hilang apakah kebudayaan Bali dapat bertahan karena diyakini bahwa subak bersama lembaga sosial tradisional lainnya seperti banjar dan desa adat merupakan tulang punggung kebudayaan Bali. Dalam kaitan ini para petani anggota subak perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pengalih fungsian lahan sawah yang berada dalam wilayah subak mereka.

3) Ketersediaan air semakin terbatas.
Meningkatnya pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk serta pembangunan di segala bidang terutama pemukiman dan industri pariwisata di Bali menuntut terpenuhinya kebutuhan air yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Ini mengisyaratkan bahwa air menjadi sumber daya yang semakin langka. Persaingan yang menjurus ke arah konflik kepentingan dalam pemanfaatannya antara berbagai sektor terutama sektor pertanian dan non pertanian cenderung meningkat di masa-masa mendatang. Belum adanya hak penguasaan air yang dimiliki oleh para pengguna merupakan salah satu sebab pemicu konflik pemanfaatan air. Hal ini dapat dimengerti karena air yang selama ini dimanfaatkan lebih banyak untuk pertanian, sekarang dan di masa depan harus dialokasikan juga ke sektor non pertanian. Mengingat air menjadi semakin langka maka para petani anggota subak dituntut untuk mampu mengelola air secara lebih efisien dan demikian pula para pemakai air lainnya agar mampu mengembangkan budaya hemat air.

4) Kerusakan lingkungan khususnya pencemaran sumber daya air.
Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluhan dari masyarakat petani tentang adanya pencemaran lingkungan khususnya sumberdaya air pada sungai dan saluran irigasi akibat adanya limbah industri dan limbah dari hotel serta pemukiman. Kecenderungan menurunnya kualitas air ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industry yang mengeluarkan limbah beracun yang disalurkan melalui sungai maupun saluran irigasi. Dalam kaitan ini subak dituntut untuk mampu berperan aktif dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

5) Penyerahan kembali tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi kepada petani.
Karena semakin terbatasnya kemampuan pemerintah baik dari segi personil maupun pendanaan untuk melakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi, maka pemerintah telah mengambil seperangkat kebijaksanaan yang pada dasarnya memberikan tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi kepada para petani yang tergabung dalam P3A/subak. Untuk jaringan irigasi di atas 500 ha para petani diwajibkan membayar Iuran Pelayanan Irigasi (IPAIR). Sedangkan untuk yang di bawah 500 ha diserahkan sepenuhnya kepada P3A/subak melalui program Penyerahan Irigasi Kecil (PIK). Adanya tuntutan finansial akibat tanggung jawab memikul beban OP jaringan irigasi maka subak seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui berbagai kegiatan pengumpulan dana bersama. Misalnya, dengan memanfaatkan lembaga subak sebagai wahana untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi ekonomi/ agribisnis.

6) Berkurangnya minat pemuda untuk bekerja sebagai petani.
Ada kecenderungan bahwa berusahatani di sawah dianggap tidak lagi dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dibandingkan dengan bekerja di sektor industry dan jasa khususnya yang berkaitan dengan pariwisata. Hal ini disebabkan karena sempitnya luas tanah garapan dan rendahnya nilai tukar petani. Bekerja di luar sektor pertanian cenderung lebih menarik dibandingkan jadi petani yang serba bergelimang lumpur dan penuh resiko akibat kegagalan panen dan fluktuasi harga. Dapat dimengerti kalau pemuda-pemuda desa dari keluarga petani cenderung meninggalkan orang tua mereka dan pergi ke kota mencoba mencari pekerjaan yang lebih bergengsi. Dapat diduga pula bahwa dalam beberapa tahun mendatang yang tinggal di daerah pedesaan bekerja sebagai petani adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut yang tentunya kurang produktif lagi. Kecenderungan ini kiranya dapat berimplikasi negatif terhadap kehidupan subak itu sendiri. Subak sebagai organisasi petani dituntut untuk mampu menciptakan kondisi yang dapat menarik kaum muda untuk bekerja sebagai petani modern dan profesional.

7) Kesenian Gambuh Dikhawatirkan Rapuh/Punah
Berbagai upaya dilakukan dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian Bali, namun sejumlah tarian masa kuno dikhawatirkan punah karena tidak ada generasi penerus yang mewarisinya. “Kesenian gambuh misalnya, selain senimannya sudah sangat langka, pementasannya juga kurang menarik generasi muda masa kini,” kata Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, I Nyoman Carita SST, MFA di Denpasar, Kamis. Alumnus Program S-2 Bidang Studi Koreografi University Of California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat itu mengatakan, pihaknya sedang melakukan revitalisasi tari gambuh bersama seorang tokoh seniman di kampung kelahirannya Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar. Tari Gambuh yang menjadi inspirasi dan sumber gerak tari Bali lewat proses revitalisasi bersama seorang tokoh seniman setempat I Ketut Muji (64), diharapkan mampu menyiasati dalam mengkolaborasikan dengan unsur seni lain. Upaya itu diharapkan mampu menciptakan gerakan-gerakan tari yang bermutu, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam kesenian Bali. Kesenian gambuh, sumber dari semua gerak dan tari Bali, dengan kemasan yang baru dalam pertunjukan drama tari hasil revitalisasi diharapkan mampu menarik minat anak-anak muda, sekaligus menjawab kekhawatiran akan punahnya jenis kesenian masa lampau tersebut. Hasil revitalisasi tersebut dengan tetap dalam kemasan yang sarat dengan seni budaya Bali, namun penyuguhannya lebih menarik bagi masyarakat penonton, termasuk wisatawan maupun masyarakat internasional. 

Demikianlah tentang adat budaya Bali yang mulai rapuh dan punah, semoga kita dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi warisan leluhur kita, dan menjadi salah satu aset kekayaan bangsa dan negara. Terimakasih.

Sumber : rinaaudina.blogspot.co.id

INILAH BENTUK-BENTUK DAN JENIS TARIAN BALI YANG TERKENAL

Indoborneonatural---Jika kita jalan-jalan berwisata ke Bali, kita akan disuguhkan aneka kesenian tradisi dari Bali, salah satunya adalah tari-tarian tradisional. Tari Bali adalah tarian yang berasal dari Bali. Tari Bali tidak selalu bergantung pada alur cerita. Tujuan utama penari Bali adalah untuk menarikan tiap tahap gerakan dan rangkaian dengan ekspresi penuh. Kecantikan tari Bali tampak pada gerakan-gerakan yang abstrak dan indah.    Tari-tari Bali yang paling dikenal antara lain Tari Pendet, Gabor, Baris, Sanghyang dan Legong. Tari Bali sebagian besar bermakna religius. Sejak tahun 1950-an, dengan perkembangan pariwisata yang pesat, beberapa tarian telah ditampilkan pada kegiatan-kegiatan di luar keagamaan dengan beberapa modifikasi.

Tari Bali dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, wali (sakral) atau bebali (upacara) dan balih-balihan (hiburan). Tari wali dan bebali dapat ditarikan di tempat dan waktu tertentu. Tari wali dipentaskan di halaman bagian dalam pura dan tari bebali di halaman tengah (jaba tengah). Sebaliknya tari balih-balihan ditarikan di halaman luar pura (jaba sisi) dalam acara yang bersifat hiburan. Berikut penjelasan lebih lanjut.

Tari wali, merupakan tarian sakral, dipentaskan di halaman bagian dalam pura (jeroan). Contohnya :

1. Tari Rejang

Tari Rejang merupakan tarian yang ditampilkan oleh wanita secara berkelompok di halaman pura pada saat berlangsungnya upacara. Tari rejang memiliki gerakan yang sederhana dan lemah gemulai.

2. Tari Baris,

Tari Baris merupakan jenis tarian pria, ditarikan dengan gerakan yang maskulin. Berasal dari kata bebaris yang bermakna prajurit, tarian ini dibawakan secara berkelompok

3.Tari Pendet

Tari Pendet merupakan tarian pembuka upacara di pura. Penari yang terdiri dari wanita dewasa menari sambil membawa perlengkapan sesajen. Gerakan Tari Pendet lebih dinamis dibanding Tari Rejang. Kini, Pendet telah ditarikan untuk hiburan, terutama sebagai tari penyambutan.
                      

4.Tari Sanghyang Dedari

Tari Sanghyang Dedari adalah tari yang memasukkan unsur-unsur kerasukan guna menghibur dewa-dewi, meminta berkat dan menolak bala.


5.Tari Barong

Tari Barong adalah seni tari yang menceritakan pertarungan antara kebajikan dan kejahatan. Tokoh utama adalah barong, hewan mistik yang diperankan dua penari pria, seorang memainkan kepala dan kaki depan, seorang lagi jadi kaki belakang dan ekor.

6. Bebali

Bebali adalah jenis tarian upacara, biasanya dipentaskan di halaman tengah pura.tari ini sifatnya diantara sakral dan hiburan. Contohnya:

a. Gambuh

Gambuh adalah sendratari bali yang tertua. Musik, iteratur, dan kosakata yang digunakan dalam tariannya diturunkan dari periode Majapahit di pulau jawa. Pertunjukan ini biasanya ditampilkan di pura pada saat hari-hari besar dan upacara.

7. Balih-balihan

Balih-balihan adalah jenis tarian yang bersifat non religius dan cenderung menghibur. Tarian ini biasanya ditampilkan dihalaman depan pur atau jaba pura. Contohnya:

a.Janger

Janger adalah tari pergaulan yang dibawakan oleh penari laki-laki an perempuan. Penari putri menggunakan mahkota berbentuk merak berwarna emas dan hiasan daun kepala kering. Sebagian besar gerakan dilakukan dengan posisi duduk dengan gerakan-gerakan bahu, tangan, mata, kepala sambil bernyanyi dan diiringi oleh gambelan.

b.Kebyar atau Kekebyaran

Kebyar atau Kekebyaran adalah tarian yang ditarikan secara solo, duo, kelompok, maupun dalam sendratari. Tari ini diiringi oleh permainan gambelan gogng kebyar

c .Legong

Legong adalah tarian yang diciptakan oleh Pangeran Sukawati berdasarkan miminya melihat bidadari. Penari legong yang berjumlah 3 orang menari mengikuti permainan gamelan semar pagulingan.

d.Kecak

Kecak adalah tarian yang dibawakan secara beramai-ramai pada malam hari mengelilingi api unggun. Ditampilkan oleh seratus atau lebih pria sambil duduk, dipimpin oleh pendeta di tengah-tengahnya. Tari kecak tak diiringi musik , tetapi hanya tepukan telapak tangan yang memukul bagian-bagian dari tubuh agar menghasilkan suara. Mereka mengucapkan kata “cak,cak,cak” untuk menghasilkan suatu paduan suara yang unik.

e.Tari Topeng

Di Bali topeng dianggap sakral, seperti topeng barong ket (singa), barong macan (harimau), barong bangkal (babi hutan), barong lembu (banteng) dan barong landung (raksasa). Menarikan tari topeng dilakukan untuk memainkan kisah kehidupan nenek moyang, kisah Ramayana, atau riwayat sejarah.

Demikianlah tentang jenis dan bentuk-bentuk Kesenian tari tradisional Bali, semoga bermanfaat. terimakasih.

Sumber :
ttp://id.wikipedia.org
http://www.babadbali.com
http://wisata.balitoursclub.com
http://intisari-online.com
http://www.turkebali.com
http://rrsarinastiti.blogspot.com
http://dunia-kesenian.blogspot.com
http://www.tradisikita.my.id/

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.